Komentar, 9 Aug 2006
Pdt Damanik: Kami siapkan aksi besar-besaran
Doakan, Tibo Cs Dieksekusi Sabtu Ini
Kejari Palu (Sulawesi Te-ngah), pukul 15.00 Wita ke-marin (08/08), telah mengi-rimkan surat pelaksanaan ek-sekusi kepada keluarga Fa-bianus Tibo cs. Isi surat ber-nomor SR.65/R.2.10/Buh.1/8/2006 yang diteken Kajari Mohammad Basri Akib SH, menetapkan bahwa eksekusi mati terhadap Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus da Silva, akan dilaksanakan Sabtu (12 Agustus) ini. Kejari Palu sendiri tidak berani menyerahkan langsung surat itu kepada keluarga Tibo cs, melainkan menggunakan Pdt Rinaldi Damanik sebagai fasilitatornya. ‘’Mereka takut menyerahkan langsung, se-hingga mereka menyerahkan melalui saya untuk menghu-bungi keluarga Tibo,’’ kata Da-manik seraya mengatakan, surat pemberitahuan Kejari itu kemudian diserahkan ke-pada anak Tibo, Robert Tibo. Dengan didampingi Dama-nik, Robert Tibo secara spon-tan langsung menyatakan pe-nolakan terhadap surat pem-beritahuan vonis mati terha-dap ayahnya cs. “Begitu me-nerimanya, Robert langsung mengisi dalam ekspedisi yang menyatakan menolak isi surat tersebut,’’ ungkap Damanik yang adalah Ketua Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) ini. Gereja-gereja di Sulteng sen-diri, kata Damanik, secara te-gas menolak eksekusi terse-but. Apalagi menurut Da-manik, ada kejanggalan dalam penetapan tanggal pelaksa-naan eksekusi tersebut. “Se-perti diketahui, saat ini di Poso sedang dibahas tentang am-nesti umum menuju perda-maian. Tapi anehnya Tibo cs tidak termasuk di dalamnya,’’ kata Damanik. Selain itu, dia juga menilai, pelaksanaan eksekusi tanggal 12 Agustus, sangat riskan ka-rena di seluruh pelosok Sul-teng, sedang ramai-ramainya kegiatan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. ‘’Jadi apa maksud-nya ini,’’ kata Damanik yang secara tegas telah menyata-kan melalui surat tertulis ke sejumlah pihak yang berkom-peten, siap menggantikan Tibo cs untuk dihukum mati. Terkait rencana pelaksanaan eksekusi Tibo cs ini, pihaknya juga telah menyiapkan renca-na aksi unjuk rasa massa se-cara besar-besaran di Sulteng menolak eksekusi tersebut. ‘’Kami siap beraksi, apapun risikonya. Dan itu akan kami lakukan dengan segera,’’ kata Damanik yang dihubungi Komentar via telepon, tadi malam. Dia juga meminta, agar war-ga Sulawesi Utara ikut men-dukung perjuangan mereka membela Tibo cs. ‘’Mohon do-akan perjuangan membela Tibo cs,’’ imbaunya. Sementa-ra itu, informasi yang diper-oleh dari sumber di Mapolda Sulteng, bahwa Kapolda Sul-teng masih akan mengkomu-nikasikan dengan Mabes Polri soal permintaan kejaksaan ini. Polda sendiri dimintakan menyiapkan eksekutor untuk menghukum mati Tibo cs. Se-perti diketahui, Tibo cs dija-tuhi hukuman mati dengan tuduhan pelaku kerusuhan Poso. Putusan hakim terhadap Tibo cs dilaksanakan Maret 2001 silam di PN Palu dengan Ketua Majelis Hakim Darmono SH dengan anggota Ferdinan-dus PN dan Taksin SH. Putu-san ini diputuskan, karena menurut penilaian majelis hakim, Tibo dkk terbukti se-cara sah dan meyakinkan me-lakukan pembunuhan beren-cana, pembakaran, dan peng-aniayaan berat terhadap ba-nyak manusia tak berdosa sa-at kerusuhan Poso bernuansa SARA bergolak pertengahan 2000 silam. Putusan ini kemudian diban-ding. Namun 17 Mei 2001, PT Sulteng mengeluarkan putu-san menolak upaya hukum banding yang diajukan ketiga terpidana tersebut. Banding kemudian dilakukan ke MA. Tapi pada tanggal 11 Oktober 2001, MA menolak permoho-nan kasasi Tibo dkk sambil meneguhkan putusan dua pengadilan di tingkat bawah, dan terakhir lagi-lagi majelis hakim lembaga peradilan tertinggi itu dalam persi-dangannya pada 27 Februari 2004 menolak upaya hukum PK yang diajukan Tibo dkk. Sesuai UU No 22/2002 ten-tang Grasi, para terpidana ke-mudian mengajukan permo-honan pengampunan kepada presiden dan berharap akan ada perubahan, peringanan, pengurangan, serta pengha-pusan pidana yang telah dija-tuhkan. Namun presiden pada 13 April 2005 menyatakan menolak permohonan grasi mereka.(rik/*)
Wednesday, August 09, 2006
Posted
@
8:55 AM
0
comments
Saturday, August 05, 2006
SUARA PEMBARUAN DAILY
Aminuddin Ponulele Jadi Tahanan Kota, Poso Center Kecam Keras
[PALU] Mantan Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Aminuddin Ponulele yang ditahan di Markas Brimob Polda Sulteng sejak 8 Juni karena menjadi tersangka korupsi dana pengungsi Poso, kini dialihkan statusnya menjadi tahanan kota. Pengalihan status dilakukan Polda Sulteng menyusul permintaan tersangka melalui tim kuasa hukumnya yang memohon keringanan kepada polisi.
"Setelah mempertimbangkan secara matang, dan karena juga menyangkut hak asasi manusia (HAM), permintaan tersangka jadi tahanan kota kita setujui. Dengan syarat, tentunya tersangka tidak akan menghambat proses penyidikan apalagi sampai melarikan diri," kata Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP M Kilat saat dihubungi Pembaruan, Kamis (3/8).
Tim penasihat kuasa hukum Aminuddin, Muchtar SH mengatakan, pihaknya mengajukan permohonan penangguhan keamanan terhadap kliennya karena alasan kesehatan. "Pak Aminuddin sakit, dan butuh berobat lanjut. Karena itu, kami mohonkan penangguhan penahanan pada polisi untuk klien kami," katanya.
Dikecam Keras
Lembaga Poso Center dalam siaran persnya di Poso mengecam sikap Polda Sulteng yang menjadikan Aminuddin sebagai tahanan kota.
Sekretaris Poso Center, Mafud Maswara menyatakan, keputusan itu menjadi bukti aparat penegak hukum tidak sungguh-sungguh menangani korupsi dana pengungsi Poso yang telah mengakibatkan begitu banyak penderitaan bagi rakyat Poso.
"Polisi Sulteng sejak lama memang tidak berkehendak mengusut kasus ini. Selama lima tahun (2000-2005), korupsi dana kemanusiaan Poso dibiarkan tumbuh merajalela. Banyak polisi yang diuntungkan di atas darah dan air mata rakyat Poso. Kalau kasus ini diusut sampai ke akar-akarnya, sejumlah pejabat teras polisi dipastikan akan masuk bui, jadi itu sebabnya polisi hanya setengah hati memproses kasus ini," tegasnya.
Sesuai Pasal 2 UU No 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kasus korupsi dana bantuan karena kerusuhan sosial masuk kategori kasus dalam keadaan tertentu, di mana pelakunya harus dihukum secara berat.
Melihat proses penanganan korupsi Poso yang kurang serius, Poso Center meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengambil alih pemeriksaan kasus tersebut, menindak pelakunya tanpa pandang buluh dan bebas dari pengaruh politik. Penanganan kasus korupsi Poso yang melibatkan Aminuddin yang masih menjabat Ketua DPD Golkar Sulteng, dinilai Poso Center sarat intervensi politik dan manipulasi. [128]
Last modified: 4/8/06
Posted
@
10:54 PM
0
comments
SUARA PEMBARUAN DAILY
Bom Kembali Meledak di Poso
[POSO] Di tengah situasi Poso yang sudah mulai tenang, sebuah ledakan yang diduga bersumber dari bom rakitan, Kamis malam (3/8) sekitar pukul 20.45 Wita, kembali mengguncang bumi Sintuwu Maroso itu. Tidak ada korban jiwa ataupun kerusakan akibat ledakan, namun peristiwa tersebut sempat menimbulkan kepanikan dan ketakutan bahkan trauma yang mendalam bagi masyarakat.
Pada Jumat pagi (4/8) sekitar pukul 07.45 Wita, polisi menemukan sumber ledakan berasal dari pintu masuk ke stadion olahraga Kasintuwu Poso di Jl. Brigjen Katamso, Kelurahan Kasintuwu, Poso Kota atau sekitar 100 meter dari RSU Poso.
Di lokasi ini, tim penjinak bahan peledak (Jihandak) Polres Poso menemukan serpihan-serpihan ledakan antara lain pipa paralon berdiameter sekitar 12-13 cm yang diisi dengan gotri serta bubuk belerang (bahan baku bom). Bahan-bahan tersebut diduga sumber penyebab ledakan.
Bunyi ledakan sangat keras terdengar sampai radius sekitar 1 km, sempat membuat warga Poso panik dan ketakutan. Para pasien di RSU Poso yang ikut mendengar bunyi ledakan, lari berhamburan keluar halaman rumah sakit dan di wajah mereka tampak adanya rasa trauma dan ketakutan yang mendalam.
"Kami takut sekali peristiwa-peristiwa yang lalu akan terulang lagi. Mohon kiranya aparat da- pat mengatasi situasi ini," kata Maliwo (32), seorang pasien di RSU Poso.
Sampai Jumat siang sekitar pukul 11.00 Wita, aparat polisi yang dipimpin Wakapolresta Poso, Komisaris Polisi Minarto SiK masih terus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan di lokasi ledakan dipasangi police line. Warga juga tidak diizinkan masuk ke dalam stadion. Puluhan aparat berjaga-jaga di sekitarnya.
Minarto yang dikonfirmasi tentang ledakan tersebut masih belum bersedia berkomentar banyak.
"Kita masih menyelidikinya, namun dari serpihan-serpihan yang kita temukan tampaknya ledakan tersebut berasal dari bom rakitan," ujarnya. Pemantauan Pembaruan di Kota Poso pascaledakan aparat meningkatkan penjagaannya. Sepanjang Kamis malam aparat berjaga-jaga di jalan- jalan utama dalam Kota Poso seperti Jalan Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera.
Namun demikian aparat tidak melakukan pemeriksaan KTP ataupun sweeping kepada para pengguna jalan seperti biasa dilakukan jika terjadi ledakan-ledakan seperti itu.
Dalam dua bulan terakhir setidaknya terjadi tiga kali ledakan. Sebelumnya ledakan di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Jemaat Eklesia Poso pada 1 Juli lalu, sehari kemudian di Kelurahan Kayamanya, Poso Kota dan terakhir tadi malam.
Dari kasus-kasus ledakan bom rakitan itu, hingga saat ini belum satupun pelaku yang dapat ditangkap. Derita Poso boleh dibilang tidak pernah berakhir setelah konflik antar agama yang terjadi beberapa tahun lalu menyebabkan ribuan orang tewas, giliran bom-bom dan penembak misterius mengancam warga. [128]
Last modified: 4/8/06
Posted
@
6:48 AM
0
comments
Friday, August 04, 2006
Ledakan Keras Mengguncang Poso
Laporan Wartawan Kompas Reinhard Marulitua N, 3 Agustus 2006
PALU, KOMPAS - Sebuah ledakan cukup keras mengguncang Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (3/8), sekitar pukul 20.45 Wita. Sumber ledakan berada di sekitar Kompleks Gedung Olah Raga Poso, Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kasintuwu, Poso.
Ledakan yang terdengar sampai radius satu kilometer itu mengakibatkan warga Poso panik dan berhamburan keluar rumah. Ratusan warga Poso langsung menuju lokasi ledakan mencari tahu apa yang terjadi.
“Ledakan keras sekali. Saya sudah mau tidur. Tapi mendengar ledakan, saya langsung meloncat dari tempat tidur dan berlari keluar rumah,” kata Bayu (27), warga Kasintuwu, Poso.
Bayu mengatakan, beberapa menit setelah ledakan, puluhan anggota Kepolisian Resor Poso langsung menuju Kompleks GOR Poso mencari titik dan sumber ledakan. Sampai pukul 22.00 Wita, polisi masih mencari titik dan sumber ledakan. Pencarian itu dibantu sejumlah warga Poso yang berada di sekitar lokasi ledakan.
Pihak kepolisian belum memberikan keterangan apakah titik dan sumber ledakan sudah ditemukan. Namun, warga Poso menduga ledakan berasal dari sebuah bom.
Namun, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Brigjen (Pol) Oegroseno membantah itu ledakan bom. Sebab, setelah diteliti di lokasi ledakan, tidak ada sisa-sisa ledakan yang berasal dari sebuah bom. Karena itu, diperkirakan ledakan bersumber dari petasan.
Posted
@
6:18 AM
0
comments
Ledakan Keras Diduga Bom Guncang Poso
Kamis, 03 Agustus 2006 22:18 WIB
TEMPO Interaktif, POSO:Suara keras yang diduga ledakan bom terdengar dari areal lapangan sepakbola, di Jalan Brigjen Katamsi, Kasintuwu, Poso Kota, Palu, Sulawesi Tengah, pada sekitar pukul 20.45 waktu setempat. Suara ledakan terdengar sampai radius satu kilometer. “Saya berlari ke jalan, dan mendapat informasi bom meledak di gedung olahraga,” kata Abdul Kadir, warga Bone Sampe, Poso, Kamis (3/8). Tak hanya Kadir setelah ledakan terdengar, warga berbondong ke lokasi suara berasal. Lokasi bom, yang terletak 30 meter dari rumah jabatan Kepala Polisi Resort Ajun Komisaris Besar Rudi Sufahriyadi ini, gelap, sepi, dan tak ada lampu. Puluhan polisi dari tim Penjinak Bahan Peledak tiba di lokasi beberapa saat setelah kejadin. Garis polisi dipasang disekitarnya. Polisi, yang dipimpin Wakil Kepala Polisi Poso, Ajun Komisaris Besar Minarto, menyisir sekitar lapangan. Tetapi mereka belum menemukan serpihan bom. Polisi Poso belum memastikan jenis bahan yang meledak tadi. "Kami masih bekerja dan belum bisa memberi keterangan penting, sorry,” kata Minarto.
Darlis
Posted
@
6:06 AM
0
comments