RS, Sabtu, 23 September 2006
Gubernur Imbau Umat Kristiani Tak Turun ke Jalan
PALU- Beberapa jam pasca eksekusi Tibo jajaran Muspida Sulteng langsung menggelar pertemuan dengan jajaran pemuka agama di antaranya, pemuka agama Katolik, Kristen Protestan, Islam, Hindu dan Buddha minus Konghucu. Pertemuan yang diberi nama harmonisasi kehidupan umat beragama menuju Sulteng yang aman, damai, adil dan sejahtera dirangkai dengan menyongsong Ramadan 1427 Hijriah.
Dua anggota Muspida yang secara langsung terlibat secara teknis dalam eksekusi mati Fabianus Tibo dan kawan-kawan, yakni Kejati Sulteng dan Kapolda Sulteng Kombes Badrodin Haiti justru tak terlihat. Dalam pertemuan yang berlangsung di Wisma Haji Jalan WR Supratman, Palu Barat itu, Gubernur Paliudju mengimbau kepada umat Kristiani yang berdoa untuk Tibo serta dua rekannya cukup dengan melakukannya di rumah masing-masing atau di tempat-tempat peribadatan atau gereja.
''Saya mengharapkan saudara-saudara warga Kristen menunjukkan simpatinya kepada Tibo cs cukup berdoa di rumah atau di gereja saja. Tidak perlulah turun ke jalan,'' ajak Paliudju.
Eksekusi Tibo dan dua rekannya, menurutnya tidak perlu direspons secara berlebihan. Semua pihak harus menahan diri. Apa yang sudah terjadi pada Tibo cs yang divonis sebagai pelaku utama kerusuhan Poso Mei 2000 silam adalah sebuah ketetapan hukum yang harus tetap dijunjung tinggi oleh semua pihak.
Dalam pertemuan yang berlangsung dua jam lebih itu Gubernur Paliudju juga menyinggung kondisi keamanan di Sulawesi Tengah beberapa jam pasca eksekusi mati Tibo cs. Secara umum, kata dia, kondisi keamanan di Sulteng sangat kondusif. Demikian pula Kota Poso, Tentena maupun Morowali tempat tiga terpidana mati itu berasal, kondisi keamanan sangat kondusif.
Ketua DPRD Sulteng Drs H Murad U Nasir dan Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Husen Malik dalam sambutan singkatnya mengimbau kepada masyarakat Sulteng untuk tetap menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing. Kakanwil Depag Drs H Aziz M Godal yang bertindak selaku moderator dalam pertemuan yang diikuti seratusan tokoh agama dan tokoh masyarakat itu, mengemukakan pertemuan dengan pemuka agama bukan untuk merespons tertembaknya tiga terpidana mati dalam kerusuhan Poso.
Melainkan pertemuan biasa dalam rangka menyongsong datangnya bulan suci ramadan. Bantahan yang sama juga dikemukakan Humas Kanwi Departemen Agama Muhammad Ramli. ''Ini hanya pertemuan biasa tidak ada kaitannya dengan eksekusi,'' bantahnya. (yar)
Monday, September 25, 2006
Posted
@
12:11 PM
0
comments
RS, Sabtu, 23 September 2006
Peti Mati dan Jas Diganti
Tibo-Marinus Akan Dikubur Berdampingan
MOROWALI- Jenazah almarhum Fabianus Tibo (60) dan Marinus Riwu (48) tiba di Soroako, Sultra, sekitar pukul 10.00 wita setelah dibawa dengan dua pesawat khusus Polri dari Bandara Mutiara Palu pukul 06.30 wita, kemarin (22/9). Dari Soroako, kedua jenazah kemudian dibawa ke Beteleme, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali melalui perjalanan darat.
Jenazah baru tiba di Beteleme sekitar pukul 12.30 wita dan dibawa ke Gereja Santa Maria Beteleme Tua, untuk disemayamkan. Beteleme Tua berjarak sekitar 35 km dari kota Kolonodale.
Sempat terjadi keributan saat iringan mobil jenazah melintas di depan Puskesmas Beteleme. Keluarga Tibo dan Marinus serta massa tampak kesal kaena iringan kendaraan yang mengantar mobil jenazah tidak melintas di depan rumah duka Tibo di Beteleme Tua.
Jalan utama ini memang sedianya akan melewati rumah duka keluarga Fabianus Tibo. Karena tidak lewat di situ, massa yang sudah berkumpul di jalan berusaha menahan mobil jenazah. Namun kendaraan itu tetap mengarah ke Gereja Santa Maria, tepatnya di belakang Mapolsek Lembo.
Setibanya di Gereja Santa Maria, keluarga almarhum Tibo dan Marinus serta warga lainnya yang datang dari berbagai penjuru itu, tampak menangis mengelilingi Gereja Santa Maria yang sudah dijaga ketat puluhan aparat.
Sampai tadi malam, belum ada kepastian kapan Tibo dan Marinus dimakamkan. Menurut Yan Kasiala, keluarga Fabianus Tibo, yang ditemui Radar Sulteng di rumah duka menyebutkan, pihaknya masih menunggu kedatangan istri Tibo, Nurlin Kasiala dan dua anaknya Robertus dan Boby.
Yan juga mengatakan, pemakaman belum dilakukan karena kuburan untuk kedua jenazah belum digali. Ini karena belum adanya kepastian apakah kuburan akan digali di tanah keluarga Tibo atau di pekuburan umum. ''Kami belum tahu, menunggu Nurlin, istri Tibo yang diperkirakan malam ini (kemarin malam) tiba dari Palu,'' kata Yan Kasiala.
Sementara itu, keluarga Marinus Riwu yang selama ini tinggal di wilayah transmigrasi Desa Malores, Kecamatan Petasia, baru tiba di Beteleme Tua sekitar pukul 17.00 wita. Sekitar pukul 18.00 wita keluarga Tibo dan Marinus meminta untuk mengganti peti mati serta jas yang dipakaikan kepada Tibo dan Marinus. Petugas medis dari Puskesmas Beteleme kemudian mengganti jas Tibo dan Marinus. Sementara di luar gereja pelayat melakukan ibadah puji-pujian.
Keterangan yang diperoleh menyebutkan, jenazah Marinus tidak akan dimakamkan di Malores tetapi dimakamkan bersama-sama dengan Fabianus Tibo. ''Istri dari Pak Marinus sudah setuju kalau suaminya dikuburkan berdekatan dengan Pak Tibo,'' kata Anton yang ditunjuk keluarga Marinus sebagai juru bicara.
Diperloleh keterangan bahwa misa dalam rangka pemakaman Tibo dan Marinus akan dipimpin pastur dari Palu. Menurut rencana Pendeta Renaldy Damanik dari GKST akan hadir pada misa itu sekaligus memberikan sambutan.
Sekadar diketahui, Fabianus Tibo masuk ke Beteleme pada tahun 1993. Sebelumnya Tibo yang menjadi warga trans asal NTT bermukim di Luwuk, Kabupaten Banggai. Selama di Beteleme, Tibo bekerja di Perkebunan Inti Rakyat (PIR) sampai tahun 1999.
Tibo memiliki tiga anak hasil pernikahannya dengan Nurlin Kasiala. Ketiga anaknya masing-masing Robert, Boby dan Hengky. Rumah Fabianus Tibo di Beteleme Tia dibakar massa pada kerusuhan pada 10 Oktober 2003 lalu. Sementara Marinus Riwu yang juga bekerja di perkebunan sawit di Malores mempunyai dua putra dan satu putri.
Sementara itu, kemarin umat Katolik melakukan misa Misa Requim (misa arwah) di Gereja Santa Maria, Jalan Tangkasi, Palu Selatan. Misa yang dimulakan pukul 09.00 wita Jumat (22/9) dipimpin langsung Uskup dari Manado Mgr Yosef Suwatan MSc.
Prosesi misa berjalan khidmad yang ditandai dengan penyampaian doa bagi Tibo cs dan khsususnya bagi keluarga yang telah ditinggalkan agar tetap diberi ketabahan dan kekuatan iman. Selanjutnya pada misa puncak dilaksanakan pembagian hosti kepada anak dan keluarga Tibo Cs oleh Mgr Yosef Suwatan.
Turut pula mendampingi uskup dalam misa requim tersebut adalah pastur Melky Toreh, pastur Benny, pastur Alex Palino, pastur Nober dan pastur Jemmy Tumbelaka. Melky Toreh menyampaikan pesan-pesan terkait dengan eksekusi mati Tibo Cs. Dia mengatakan, dengan kejadian tersebut jangan sampai ada yang terpancing sehingga memperkeruh suasana.
Dia mengajak jemaatnya untuk menciptakan damai di daerah dengan tetap saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. "Kita sebagai warga jemaat, janganlah permasalahan ini semakin diperkeruh oleh ulah yang tidak bertanggung jawab, akan tetapi marilah kita saling mengampuni dan jangan sampai terpancing. Mari kita buktikan dalam kehidupan kita sehari-hari mulai saat ini," katanya.
Di antara jemaat yang hadir terdapat siswa dari sekolah yang dinaungi Yayasan Pendidikan Katolik. Mereka memang diliburkan sehari untuk mengikuti misa reqium untuk Tibo cs.(ttn/suf)
Posted
@
12:09 PM
0
comments
RS, Sabtu, 23 September 2006
Makam Dominggus Dibongkar
Disemayamkan di Gereja Santa Maria
PALU- Makam Dominggus da Silva yang terletak di pekuburan umum Poboya, tadi malam sekitar pukul 20.30 wita dibongkar kembali. Pembongkaran makam terpidana mati kasus kerusuhan Poso disaksikan penasehat hukum S Roy Rening dan pastur Jemmy Tumbelaka.
Usai dibongkar, jenazah Dominggus da Silva langsung dibawa ke RS Bala Keselamatan untuk dibersihkan dan diberi formalin. ''Usai dibersihkan janazahnya disemayamkan di Gereja Santa Maria, Palu,'' jelas Penasehat Hukum Tibo Cs, S Roy Rening ditemui di sela-sela pembongkaran makam Dominggus di TPU Poboya, Palu Timur.
Diperoleh keterangan, pembongkaran makam Dominggus dilakukan karena permintaan keluarga untuk keperluan adat dan ritual. Iringan mobil dari aparat kepolisian dan PADMA menyertai mobil jenazah yang membawa dari pekuburan umum Poboya menuju RS Bala Keselamatan, Palu. Usai dibersihkan dan diberi pengawet di rumah sakit, jenazah Dominggus dibawa ke jalan Tangkasi, Palu Selatan untuk disemayamkan di Gereja Santa Maria.
Dijadwalkan hari ini (Sabtu, 23/9)) keluarga Dominggus dari Sikka, Kabupaten Flores tiba di Palu. Apakah jenazah akan dibawa ke Flores atau tempat lain masih menunggu keputusan pertemuan pihak keluarga setibanya di Palu.
Keterangan yang diperoleh dari penasehat hukum Tibo cs, Roy Rening SH MH menyebutkan, ada tiga alternatif pemakaman Dominggus. Yakni dimakamkan kembali di Palu, dibawa ke Beteleme dan alternatif terakhir dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Sikka Flores. Namun alternatif mana yang diambil, masih menunggu hasil rapat.
Diperoleh informasi, Bupati Sikka Alex Longrina akan berangkat ke Palu bersama dengan rombongan guna menggelar pembicaraan terkait dengan tempat pemakaman Dominggus da Silva. "Kami belum bisa putuskan dimana Dominggus akan dimakamkan. Nantilah setelah hasil rapat yang akan menentukan. Andaikan nantinya jadi diberangkatkan ke Sikka, maka diharapkan bisa meredakan ketegangan yang terjadi di sana," kata Roy. Dia berharap pemakaman Dominggus nanti bisa dilakukan menurut tata cara gereja dan adat.
Pengamanan terhadap jenazah Dominggus sangat ketat dipimpin langsung Kapolresta Palu AKBP Drs Atrial. Sejak dari pembongkaran hingga dibawa ke Jalan Tangkasi, Palu Selatan aparat terus melakukan pengamanan melekat. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan aparat memeriksa semua pengunjung termasuk para wartawan yang meliput proses misa di Gereja Santa Maria, Palu.(hnf/suf/cr1/cr6)
Posted
@
12:08 PM
0
comments
Radar Sulteng, Sabtu, 23 September 2006
Massa Mengamuk, Kapolsek Lage Luka
Pasca Eksekusi Tibo Cs
POSO- Pasca eksekusi mati terhadap tiga terpidana mati kasus kerusuhan Poso, Fabianus Tibo, Marianus Riwu dan Dominggus Dasilva berdampak pada munculnya sejumlah aksi massa. Aksi massa tersebut dilakukan oleh orang-orang yang menolak dilaksanakannya eksekusi.
Kapolres Poso AKBP Drs Rudi Sufahriadi dalam keterangan persnya kepada sejumlah wartawan, tadi malam (22/9) menceritakan kronologis sejumlah peristiwa menyambut detik-detik eksekusi termasuk pasca eksekusi. Dia mengatakan, sebelum dilaksanakan eksekusi ada empat titik konsentrasi massa yang menolak eksekusi.
Yakni, di kota Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Desa Watuawu dan Desa Silanca, Kecamatan Lage, serta di Kelurahan Kawua, Kecamatan Poso Kota Selatan. Di setiap titik kosentrasi tersebut jumlah massanya bervariasi, antara 100 sampai 200-an orang. Hanya di Desa Watuawu yang terlihat jumlah massanya lebih banyak, yakni mencapai 300 orang lebih.
Massa yang kecewa semakin beringas setelah eksekusi jadi dilakukan. Di Desa Watuawu, aksi 300-an massa ini menyebabkan jatuhnya korban luka-luka. Bahkan yang menjadi korban serius aksi massa yang terjadi pada hari Jumat pukul 02.00 Wita dinihari di Watuawu ini adalah Kapolsek Lage Iptu F Tarigan.
Menurut Kapolres Poso Rudi Sufahriadi, Kapolsek Tarigan mengalami luka parah akibat lemparan batu oleh massa. "Pelipis kapolsek robek 13 jahitan,'' kata Rudi.
Aksi massa di Desa Watuawu tidak hanya sampai di situ saja. Mereka juga merusak Pos Polmas yang ada di desa tersebut. Massa juga meminta Kapolres untuk menarik pasukan Brimob BKO yang bertugas di desanya.
Aksi massa di Desa Silanca sekitar pukul 03.00 Jumat dinihari, dengan melakukan pengusiran terhadap pasukan Brimob BKO yang berjumlah satu regu. Mereka meminta Kapolres menarik pasukan BKO yang ada di desanya dan hanya mau dijaga dengan anggota Polmas yang ada.
Hal yang sama juga terjadi di Kelurahan Kawua. Massa juga menolak masuknya aparat keamanan BKO di wilayahnya.
Masih menurut Rudi, khusus di Kota Tentena, aksi massa jauh lebih lama. Massa yang mulai turun kejalan di sepanjang jalan Kota Tentena (termasuk jalur trans Sulawesi) pada pukul 09.00 wita. Mereka memulai aksinya dengan membakar ban-ban bekas. Di wilayah Tentena, puncak aksi massa ini terjadi pada pukul 10.00 Wita.
Menurut Rudi, massa dalam jumlah besar ini mulai bergerak berjalan menuju ke Mapolsek Tentena. Di depan Kantor Polsek, massa kemudian melakukan orasinya. Di samping menyuarakan penolakan terhadap pelaksanaan eksekusi, massa juga mendesak Kapolres untuk menarik semua pasukan BKO yang ada di wilayah Tentena.
"Mereka meminta saya menarik BKO. Dan mereka hanya mau dijaga dengan pasukan yang ada di Polsek,'' sebut Rudi. Di Kantor Polsek ini, massa sempat tak terkendali hingga merusak kantor Polsek dan melempari semua kaca jendela kantor tersebut.
Menaggapi permintaan masyarakat yang menginginkan penarikan pasukan BKO, Rudi Sufahriadi akhirnya mengiyakannya. "Saat ini tidak ada lagi pasukan BKO di empat wilayah yakni Tentena, Watuawu, Silanca, dan di Kawua,'' terangnya.
Kapolres Poso mengatakan, hingga tadi malam atau sehari pasca eksekusi kondisi keamanan di Kabupaten Poso tetap aman dan terkendali. Dia mengimbau masyarakat Poso agar tetap menjaga kondisi keamanan di Poso. "Jangan kotori keamanan yang sudah tercipta ini dengan perbuatan-perbuatan yang justru merugikan masyarakat banyak,''ajak Rudi. "jangan mudah terprovokasi dengan isu-isu yang dihembuskan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,'' imbuhnya.
Walaupun secara umum kondisi Poso aman dan terkendali, namun sejumlah warga yang masih enggan melaksanakan aktivitasnya. Tampak di sejumlah instansi dan dinas, para pegawainya enggan masuk kerja.(cr5)
Posted
@
12:06 PM
0
comments
Radar Sulteng, Sabtu, 23 September 2006
Tegar, Tak Sedikit Pun Terdengar Tangis
Keluarga Tibo Cs Menjelang Detik-Detik Eksekusi Mati
Setelah berbagai upaya dilakukan pihak keluarga mengalami kegagalan, eksekusi terpidana mati kasus Poso Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da Silva akhirnya dilaksanakan Jumat dinihari (22/9). Keluarga Tibo Cs hanya bisa menghadapinya dengan tegar dan tabah.
Laporan: Nur Soima Ulfa
SUASANA di kawasan Gereja Katolik Santa Maria tidak seperti biasanya. Di situ puluhan aparat berpakaian brimob dan bersenjata lengkap melakukan penjagaan. Maklum, gereja itu tidak luput dari perhatian aparat keamanan menjelang pelaksanaan eksekusi mati Tibo Cs. Di kawasan itu pula tempat tinggal keluarga Tibo yang datang dari Beteleme, Kabupaten Morowali.
Setiap orang yang hanya sekadar lewat ataupun akan masuk ke kawasan gereja yang terletak di Jalan Tangkasi, Palu Selatan tersebut, tak luput dari perhatian puluhan aparat keamanan. Mulai dari hanya sekadar ditanyai, sampai pada diharuskannya menanggalkan kartu identitas diri di pos penjagaan.
Pos penjagaan ada sekitar empat buah termasuk di lokasi gereja. Untuk masuk pun harus melalui proses pemeriksaan. Setelah dinyatakan steril, baru diperbolehkan masuk.
Ketika meninggalkan gerbang utama dan memasuki halaman gedung Pastoran, aktivitas aparat keamanan tidak begitu mencolok. Hanya tampak ratusan jemaat yang memenuhi halaman gedung yang terletak persis di sisi kiri gereja tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya berdiam diri. Kesan hening dan senyap amat terasa. Semuanya larut dalam kebisuan.
Begitu juga dengan kehadiran puluhan anak muda perantauan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terlihat cukup menarik perhatian. Dengan membentuk kelompok kecil, mereka terus berbincang dengan menggunakan bahasa daerah. Tidak ada yang tahu pasti apa yang mereka bicarakan. Namun dari gerak-gerik dan nada bicara, dengan mudah dipastikan topik pembicaran tak jauh dari kepastian akan eksekusi Tibo Cs.
Saat itu, Kamis malam (21/9), waktu telah menunjukkan pukul 23.30 Wita. Setengah jam lagi, hari akan berganti Jumat (22/9) dan berarti pelaksanaan eksekusi hanya tinggal hitungan jam bahkan menit. Kenyataan ini hanya menambah kegusaran jemaat yang hadir. Atmosfir ketegangan makin terasa. Apalagi ditambah temperatur Kota Palu yang terus anjlok. Akibat hujan deras yang mengguyur kota sejak sore hari.
Dinginnya cuaca tersebut, tampaknya berhasil memaksa beberapa orang untuk masuk ke dalam gedung Pastoran. Sekadar hanya untuk menghangatkan diri, atau ingin melihat secara langsung kondisi keluarga Tibo Cs menjelang detik-detik pelaksanaan eksekusi.
Masuk ke dalam ruangan yang berukuran 8x5 meter tersebut, tidaklah sulit. Hanya diperlukan kesabaran ketika menerobos kerumunan orang, yang bergerombol di pintu masuk. Pusat perhatian saat itu adalah keenam orang yang tengah duduk di sofa merah. Dapat dipastikan mereka adalah keluarga dari ketiga terpidana mati. Mereka antara lain Robertus Tibo dan istrinya, Bernadus Bifo (anak kedua Fabianus Tibo), dan Yasinta Bo’o (istri Marinus Riwu).
Istri Fabianus Tibo, Nurlin Kasia tidak berada di ruang tersebut. Menurut informasi, Nurlin berada di ruang khusus gedung Pastoran.
Sebab selama di ruangan tersebut, mereka terus didampingi oleh pengacara Roy Rening SH MH dari Pelayanan Advokasi Untuk Keadilan dan Kemanusiaan (Padma). Selain itu juga hadir Uskup dari Manado Mgr Yosef Suwatan Msc. Semula, dia direncanakan akan memimpin misa requim (misa arwah, red) malam itu, jika eksekusi telah dilakukan. Namun hal ini tidak dikabulkan oleh pihak Kejaksaan Tinggi Sulteng.
Akibatnya para pendamping spritual tersebut, menolak mendampingi secara langsung proses eksekusi. Sebagai gantinya, Yosef bersama Pastur Jemmy Tumbelaka dan Pastur Melky Toreh, serta pengacara Roy Rening SH MH mendampingi keluarga di saat-saat menjelang eksekusi.
Roy sendiri saat itu terlihat sibuk menerima telepon dari hand phone-nya. Ia menjelaskan bahwa pihaknya tidak tahu-menahu sudah sejauh mana pelaksanaan eksekusi telah berjalan. Kesibukannya ini sangat kontras dengan kondisi keluarga, yang terlihat terus berdiam diri.
Robertus Tibo, yang saat itu mengenakan kaos berwarna biru muda, tampak tegar. Tak sedikitpun terdengar isakan tangis. Namun dari perangainya, sangat jelas tergambar kegundahan hatinya. Sebab sesekali dirinya terlihat memandang sejenak hamparan plafon putih. Sering kali ia menyilangkan kedua tangan di dada dan melihat kosong lurus ke depan. Dirinya terus membisu.
Berbeda dengan kakaknya, Bernadus Bifo (anak kedua Fabianus Tibo, red) sejak awal terlihat menundukkan kepala. Ia tidak kuasa untuk menggangkat kepalanya. Kesedihannya teramat dalam ketika harus dihadapkan pada kenyataan bahwa beberapa jam lagi, ia akan kehilangan sosok ayah yang dikaguminya.
Selain dari pihak Tibo, Yasinta Bo'o istri Marinus Riwu juga tampak hadir. Wanita separuh baya tersebut terlihat begitu bersahaja. Yasinta hanya menggunakan sendal jepit dan berkain sarung khas NTT yang dipadukan dengan blus unggu sederhana. Sering kali Yasinta terlihat menghela nafas, sembari mengeratkan genggaman tangannya. Tak jarang ia menyeka air mata dengan ujung sarungnya.
Walaupun demikian tak terdengar sedikit pun isakkan tangis dan raung kesedihan dari keluarga ketiga terpidana. Mereka hanya membisu sampai akhirnya pukul 01.43 WITA, Roy Rening mengumpulkan semua keluarga, kerabat, dan para jemaat untuk mendengar penyampaian resmi dari dirinya. Pemberitahuan ini berselang sedikitnya satu jam dari pelaksanaan eksekusi. Dimana menurut informasi eksekusi dilakukan pukul 00.30.
Kontan suasana menjadi hening. Para jemaat yang sembari tadi terus berbicara mengenai spekulasi ada tidaknya eksekusi, lantas terdiam. Dan fokus pada setiap patah kata yang diucapkan oleh Roy. "Sekitar setengah jam yang lalu pelaksanaan eksekusi telah dilakukan. Dan ini adalah informasi resmi. Saya berharap kepada kalian untuk tegarkan hati. Karena saya bersama Padma akan terus memperjuangkan hal ini (eksekusi, red) sampai ke Jakarta. Kami akan diskusikan dan menempuh jalur hukum. Kami tidak akan berhenti hingga kebenaran dan keadilan ditegakkan," tegas Roy.
Dirinya juga tetap mengingatkan permintaan terakhir ketiga terpidana, khususnya kepada anak dan menantu Fabianus Tibo. Dimana menurut surat pernyataan permintaan terakhir Tibo, ia meminta agar tidak menggunakan fasilitas negara dalam pengurusan jenazahnya nanti. "Ingat yang dikatakan bapak (Tibo, red). Untuk jas, peti jenazah, dan fasilitas pemakaman lainnya, bapak tidak ingin pakai uang rakyat. Lebih baik dikasih sama rakyat kecil. Bapak lebih senang jika semuanya pakai uang hasil kamu, anak-anaknya," ujarnya.
Mendengar hal ini, Robertus terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Bernadus Bifo, terus menundukkan kepala. Dirinya sangat terlihat begitu shock. Sama halnya dengan Yasinta, yang langsung menutup wajahnya dengan sarung setelah mendengar pemberitahuan Roy.
Setelah mendengar pengakuan resmi atas eksekusi, Pastur Melky Toreh bersama Uskup Mgr Yosef Suwatan Msc memimpin doa bersama bagi keselamatan perjalanan almarhum. Setelah prosesi ibadah yang memakan waktu sekitar 15 menit tersebut, puluhan jemaat langsung menghampiri keluarga Tibo Cs. Mereka menyampaikan rasa duka yang mendalam. Sampai doa bersama selesai, Nurlin Kasia tidak tampak.
Yasinta yang sedari tadi terlihat tegar, tidak dapat menahan kesedihannya. Tangisnya mendadak pecah. Dan membuat keluarga yang lain terbawa emosi. Suasana duka bertambah mengharukan. Hingga para keluarga tidak kuasa lagi untuk berbicara.
Sekitar pukul 02.20, Jumat (22/9) dini hari, para jemaat berangsung-angsur pulang ke kediaman masing-masing. Pihak keluarga sendiri bersama pihak gereja tengah bersiap-siap untuk melakukan misa requim (misa arwah, red), pada pagi harinya. Walaupun tidak dapat menghadirkan ketiga jenazah, keluarga tetap menginginkan diadakannya misa requim. Begitu juga dengan pelaksanaan upacara adat bagi mereka.(**)
Posted
@
12:03 PM
0
comments