Saturday, April 11, 2009

Satu TPS di Poso Diduga Dibakar
Jum'at, 10 April 2009 23:03 WIB

TEMPO Interaktif, Poso:Tempat Pengumutan Suara di Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, Kamis (9/4) dibakar oleh orang tak dikenal. TPS itu adalah sebuah bangunan gedung sekolah SDN 17. Untungnya api tak begitu membesar hanya menghanguskan sebuah lemari buku beserta isinya. Api cepat dipadamkan penduduk sekitar.

Diduga tempat pemungutan suara itu sengaja dibakar warga untuk menggangu Pemilu di Pos. Dari kepulan asap tercium bau minyak tanah.

Kobaran api terjadi saat penduduk mencontreng. “Kami kaget, ada kepulan asap dan kobaran api dari dalam kelas VI A, kami pun bergegas untuk memadamkannya," kata seorang warga yang tak mau disebut namanya.

Kepala Kepolisian Sektor Poso Kota Ajun Komisaris Polisi Saiful mengatakan masih menyelidiki kasus ini. “Kami belum bisa memberikan hasilnya, masih didalami,” katanya.

DARLIS

Thursday, March 12, 2009

Logistik Pemilu di Poso Rusak Diguyur Hujan
Kamis, 12 Maret 2009 | 15:59 WIB


TEMPO Interaktif, Poso: Kepala Sub Bagian Sekretariat KPUD Poso, Adiyan Amin, Kamis (12/3) mengaku, sejumlah dus yang berisi formulir C1 basah diterpa hujan meski mobil truk yang mengangkut logistik pemilu tersebut telah ditutupi terpal plastik.

"Mungkin karena tetesan air sehingga dus yang berada dipinggir terkena air. Namun, kerusakan akibat basah tidak terlalu parah, hanya ada sekitar 40 lembar formulir C1 yang luntur," katanya.

Ketua KPUD Poso, Iskandar Lamuka, mengatakan kerusakan formulir yang diguyur hujan tersebut tidak terlalu parah. Setelah diperiksa semua, kemungkinan masih bisa digunakan dan kerusakannya juga tidaklah parah.

DARLIS MUHAMMAD

Partai Demokrat Poso Targetkan 50 Persen Suara
Kamis, 12 Maret 2009 16:10 WIB


TEMPO Interaktif, Poso: Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menargetkan perolehan suara 50 persen dalam pemilu legislatif 9 April 2009, mendatang.

"Untuk memperoleh 50 persen suara para kader Demokrat akan bekerja maksimal pada kampanye nant," kata Ketua harian DPC Demokrat Poso Muchsin, Kamis (12/3).

Dalam beberapa rapat partai semua kader, harap Muchsin, bekerja sekuat tenaga memperoleh suara sebanyak-banyaknya dengan tetap berjalan pada etika dan aturan kampanye pemilu.

Jualan yang akan ditawarkan Demokrat Poso saat kampanye tertutup dan terbuka nanti masih tetap berpijak pada garis kebijakan pemerintah yang berada di bawah kepemimimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Menurut dia, nama Presiden SBY masih harum karena Presiden SBY pernah memberikan bantuan secara pribadi bagi korban konflik Poso. "Warga masih ingat Pak SBY saat masih menjabat sebagai Menkopolkam pada zaman Presiden Megawati. Dia memberikan bantuan kepada sejumlah korban konflik sebesar Rp 1 juta perorang," tukasnya


DARLIS MUHAMMAD

Thursday, December 11, 2008

Rumah Sakit Dianggap Seperti Terminal, Pasien Kabur
Kamis, 11 Desember 2008 21:37 WIB

TEMPO Interaktif, Poso: Gara-gara pelayanan di Rumah Sakit Umum Poso dinilai buruk, seorang pasien yang tengah dirawat melarikan diri meski di tangannya masih ditancap jarum infus. Pasien bernama Khalis Said itu mengaku terpaksa keluar lebih cepat karena tidak betah berada di Rumah Sakit Umum tersebut. "Tidak betah saya dirawat di RSU. Seperti tinggal di terminal, kamar mandinya jorok, tidak ada air lagi," kata Khalis di Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (11/12). Menurut Khalis, selama di rumah sakit, dokter tidak pernah memberi tahu apa penyakit yang diderita. Karena itu, Khalis memutuskan untuk keluar dari rumah sakit meski selang infus di tangannya masih terpasang. "Lama-lama tambah sakit dan bisa mampus saya, mendingan lari," ujar Khalis yang masih tampak pucat. Selama dirawat di Rumah Sakit itu, Khalis sempat bertanya kepada para perawat jaga soal air di kamar mandi yang kosong. Tapi perawat hanya menjawab enteng, itu bukan urusan perawat. Sebelum lari dari Rumah Sakit Umum Poso, Khalis sempat pamit kepada petugas jaga dan menyelesaikan segala administrasi keuangan. Khalis dirawat di kamar Anggrek Kelas 1. Dia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Poso oleh keluarganya pada Jumat pekan lalu ketika para keluarganya mendapati dirinya tidak sadarkan diri. "Sampai saya kaget kok tiba-tiba ada di rumah sakit, waktu itu saya tidak sadar lalu dibawa ke RSU Poso oleh keluarga," ujar Khalis yang kabur dari RSU Poso pada Senin sore (8/12) lalu. Direktur Rumah Sakit Umum Poso Dr Asnah, yang saat ini masih berada di Rumah Sakit Umum Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, ketika dihubungi via telepon genggam mengaku belum menerima laporan adanya pasien yang kabur. Terkait pelayanan Rumah Sakit yang dinilai buruk, Asnah akan memberi keterangan sepulang dari mengikuti pelatihan di Rumah Sakit Umum Pangkep. DARLIS

Sunday, November 23, 2008

Belajar Perdamaian, Muslim Moro Kunjungi Poso
Minggu, 23 November 2008 20:13 WIB

TEMPO Interaktif , Poso: Sejumlah perwakilan dari organisasi masyarakat muslim Moro, Filipina Selatan, tiba di Poso, sejak Jumat, (21/11) lalu. Kedatangan para perwakilan muslim dari wilayah yang masih dilanda konflik tersebut merupakan rangkaian perjalanan yang mereka lakukan guna membangun perdamaian untuk Moro.

Perjalanan tujuh orang dari perwakilan ormas muslim Moro ke Poso difasilitasi Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Mereka adalah, Ismael Mastura (Vice President Finance and Administration, Sultan Kudarat Islamic Academy, Bulalo), Amilhusin Jalilulla (Daen College of Islamic and Arabic Studies MSU-TCTO Bongao Tawi-Tawi), Nurmina D Injani (Administrative Assistant I Municipal Bugdet Office LGU Jolo), Yusop T. Alano (Provinsial Board Member Sangguniang Panlalawigan Office), Sherma Sappari (Principal Liwanag Kapayapan Foundation), Amilodin Sharief (Director Jamiat Muslim Mindanao) dan Zaenida Tan Lim (President Sarang Bangun Learning Center).

Di Poso, para perwakilan muslim Moro tersebut melakukan pertemuan bersama sejumlah tokoh muslim Poso dan korban kerusuhan di Kantor Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) Poso di Jalan Monginsidi, Kelurahan Bonesompe.

Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 9 pagi dan berakhir pukul 11.30 tersebut banyak mendiskusikan riwayat konflik dan pola penyelesaiannya di dua wilayah yang berjauhan, Moro dan Poso. Baik, Moro dan Poso hampir memiliki kesamaan konflik yang berakar dari ketidakadilan pemerintah yang berujung pada konflik antar penganut agama.

Namun, yang berbeda, pemerintah Indonesia dan masyarakat Poso mampu menyelesaikan konflik yang berlangsung hampir 10 tahun tersebut. Sementara, Pemerintah Filipina dan Masyarakat Moro sulit menemukan titik temu menyelesakan perseteruan yang telah berlangung puluhan tahun. Sejumlah tokoh muslim dan perdamaian Poso yang hadir dalam pertemuan tersebut seperti Udin Ojobolo, Yahya Mangun, Ruaida Untingo mengungkapkan, perdamaian hanya bisa dicapai karena kesungguhan pemerintah.

Kepala rombongan tokoh muslim Moro Ismael Mastura mengatakan kunjungan mereka ke Poso guna melihat secara dekat masyarakat dan pemerintah dalam menjalani proses pendidikan dan proses perdamaian di Poso. Mereka berharap, apa yang telah mereka lihat dan dengar langsung dari para tokoh-tokoh agama dan masyarakat dapat menjadi refrensi dalam pelaksaan proses perdamaian di Moro.

Sementara itu, koordinator rombongan dari UIN Jakarta Asep Setiawan mengatakan, para tokoh muslim Moro ini memilih melakukan studi banding di Poso karena mereka melihat konflik di Poso memiliki kesamaan dengan konflik yang terjadi di Moro yang dilatarbelakangi konflik antar pemeluk agama sehingga mereka berharap metode penyelesaian konflik yang telah dicapai di Poso bisa mereka terapkan Moro.

Direktur LPMS Poso Budiman Maliki Minggu (23/11) siang menyatakan kepada Tempo, salah satu wujud perdamaian yang dicapai adalah kerjasama antara pemerintah pusat dan masyarakat dalam mendukung seluruh proses pelaksanaan perdamaian. “Ini yang telah dilakukan di Indonesia dalam menyelesaikan konflik disejumlah daerah dan penting diterapkan juga oleh pemerintah Filipina dengan Masyarakat Moro,” sebut Budi.

Muslim Moro itu juga menyempatkan diri mengunjungi pesantren Hidayatullah di Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota. Rombongan diterima Pembina pesantren Hidayatullah Darwis Waru yang menggelar dialok di beranda Masjid Pesantren.

“Mereka tertarik dengan metode pendidikan pesantren yang kebanyakan diterapkan di Indonesia. Pola pendidikan ala pesantren bisa mereka terapkan di Filipina khususnya bagi bangsa Moro,”katanya.

Darlis