Monday, September 25, 2006

Komentar, 25 September 2006
Penuturan Tibo cs sebelum dieksekusi(2)
Diselamatkan Orang Bercelana Loreng…

FABIANUS Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu sudah tiada. Mereka telah dieksekusi tembak Jumat (22/09) dini hari di sebuah tempat dekat Desa Poboya, Keca-matan Palu Selatan. Apa dan bagaimana sampai Tibo cs terjebak, ditahan, dan akhirnya mengakhiri hidup di depan regu tembak? Berikut penuturan Tibo ketika masih hidup yang dibenarkan Dominggus dan Marinus sebagaima-na diperoleh dari sumber Independent Media Center Jakarta yang dikutip jawaban.com. Berikut lanjutannya. Oleh kemurahan Tuhan sa-jalah, saya bisa menerobos di tengah-tengah massa dan kembali ke dalam asrama. Saat itu saya sudah tidak melihat lagi seluruh penghuni asrama. Rupanya mereka sudah menyelamatkan diri lewat belakang asrama naik ke gunung, tinggal saya sen-dirian di dalam asrama. Saya tetap hanya berdoa “Tuhan lindungilah kami”. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sese-orang yang memakai sepati lars, berkaos loreng, juga ber-celana loreng seperti seorang tentara yang mengatakan ke-pada saya “Om cepat lari sela-matkan diri”, saya jawab teri-ma kasih. Saat itu pula lewat belakang asrama saya menu-ju gunung menyelamatkan diri.Tanpa disangka kami bisa bertemu dan berkumpul di atas gunung (dengan peng-huni asrama). Puji Tuhan, te-man-teman lain menyangka bahwa saya sudah mati, teta-pi Tuhan menyelamatkan sa-ya, berkumpul dengan anak-anak, pastur, suster dan para guru, kami pun menengok ke bawah, gumpalan-gumpalan asap tebal sudah meng-hanguskan rumah gereja, as-rama tinggal, aula dan lain-nya. Selanjutnya kami mulai ber-jalan bersama dengan anak-anak panti asuhan berjumlah 85 (delapan puluh lima) orang anak, tidak terhitung para wali/orangtua, guru, suster, pastur. Akan tetapi pastur, suster serta sopir pastur su-dah terlebih dahulu berpisah di kebun milik Daeng Hulle.Saya dan rombongan tetap berjalan walaupun belum sempat makan, kami harus selamat. Dalam hati saya ber-pikir bahwa jebakan-jebakan kepada kami sudah disusun rapi. Rupanya mereka ingin supaya kami terlibat dalam setiap masalah yang terjadi. Semakin jauh kami berjalan, semakin pula menguras te-naga, hanya buah-buah dan makanan apa adanya yang kami dapati untuk menguat-kan tubuh kami disertai doa kepada Tuhan.Akhirnya kami tiba di pinggir kali. Sambil melepas lelah kami bertemu dengan seorang masyarakat yang nama: Henry Mangkawa war-ga Desa Tambaru. Saya kata-kan tolong kami, karena kami dikejar sebuah kelompok dengan tuduhan menyerang Desa Kaimanya semalam. Bahkan mereka juga menu-duh bahwa kamilah yang membunuh polisi serta mantan Lurah Kaimanya. Akibatnya, gereja kami St Theresia Poso dibakar oleh massa kelompok tersebut. Tapi syukurlah anak-anak, serta pastur, suster dan guru dapat diselamatkan. Bapak Herry katakan: “kami akan meno-long bersama seluruh warga Desa Tambaru, akan tetapi kami menolong dulu rombo-ngan yang lebih dahulu, yang dipimpin oleh Ir Lateka, itu orangnya yang lagi duduk di bawah pohon kelapa yang ke-palanya diikat dengan han-duk”. Rupanya Sdr Lateka sudah terluka parah dan seorang pe-rawat di Desa Tambaru mera-watnya. Setelah pertolongan warga kepada Sdr Lateka dan anggotanya selesai, mereka langsung menuju Tentena, karena mobil mereka sudah datang. Sdr Lateka selalu me-megang radio (HT) untuk komunikasi.Sesudah rombongan Lateka pergi barulah saya dan rom-bongan ditolong oleh Bapak Herry serta seluruh warga de-sa Tambaru. Selanjutnya jam menunjukkan 03.30 wita (subuh) tanggal 24 Mei tahun 2000, kami meninggalkan Desa Tambaru menuju Tente-na, sampai di Tentena jam 06.00 wita, sebelumnya kami mampir di desa Kuku Umbu menurunkan anak-anak panti asuhan yang tinggal di Desa Kuku. Sampai di Tentena kami mendapat perintah mengikuti petunjuk yang dilakukan oleh Sdr Paulus Tungkanan. Ru-panya beliau sangat dihor-mati oleh Kelompok Merah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa apalagi kami hanya sebagai warga pendatang yang tujuannya untuk men-cari hidup untuk masa depan anak-anak kami. Syukur anak-anak panti asuhan yang kami bawa dari Poso diper-bolehkan pulang ke rumah beserta para guru, suster, pastur dan lainnya. Sedang-kan kami tetap tinggal di Tentena dengan maksud dan tujuan yang tidak kami tidak tahu. Saya dan Marinus juga Dominggus saat itu sudah dipisahpisahkan di Tentena.Suatu ketika saya ikut per-temuan di Desa Kelei, kurang lebih 4 (empat) km dari Ten-tena di rumah anaknya Sdr Herman Parito. Hasil per-temuan tersebut saya dipe-rintahkan untuk menuju Desa Tagolu, saya sempat ber-tanya, untuk apa saya mau ke sana? Tapi tidak ada pen-jelasan. Sekitar jam jam 15.00 wita (jam 3 sore) saya be-rangkat ke Desa Tagolu, saya mampir dulu di Sesa Sayo, oleh bapak lurah serta masya-rakat memberi saya makan bahkan sempat didoakan oleh Ibu Pendeta Sayo.Saya berangkat dari Desa Sayo jam 7 malam dan tiba di Desa Tagolu sudah malam. Nanti ketemu Ir A Lateka su-dah larut malam. Di situ ada Sdr Erik Rombot, Soni Ru-mead yang sibuk bicara via HT. Sdr Lateka berbicara ke-pada saya yaitu menggan-tikan dia dalam melaksana-kan tugas, tetapi saat itu pula saya tidak menerima tugas tersebut karena tidak ada ke-jelasan. Saya tetap waspada karena ternyata saat ke Tagolu hanya semata-mata untuk menggantikan tugas dari Sdr Ir A Lateka. Saya tahu setelah saya menolak ta-waran mereka yang berten-tangan dengan hati nurani. Pada tanggal 28 Mei 2000 sekitar jam 07.30 di rumah Sdr Bate Lateka di Desa Ta-golu, kami kedatangan 5 (li-ma) orang anggota Polres Poso membawa perintah langsung dari Bapak Kapolres Poso sekaligus memohon bantuan Kelompok Merah (Kristiani) yang ada di Desa Tagolu un-tuk mengevakuasi seluruh pe-rempuan dan anak-anak yang berada di Km 9, Komp Wali Songo dan akan diamankan di Asrama Kompi Kawu. Se-dangkan para lelaki tetap di-tempat untuk menjaga lokasi tersebut. Bapak-Bapak polisi tersebut diterima oleh Sau-dara Erik Rombot, Bate La-teka, Angke Tungkanan, serta Ventje Angkouw. Perbinca-ngan tetap berlanjut, saya mo-hon pamit karena mau menu-ju Desa Sayo atas perintah lang-sung Panglima Perang, Paulus Tungkanan via telepon yang di-terima oleh Sdr Erik Rombot.Saya dan kurang lebih 60 (enam puluh) orang berangkat ke Desa Sayo untuk menjem-put 9 orang yang sudah tak berdaya akibat gempuran massa dari kelompok tertentu Sekembalinya saya dan te-man-teman dari Desa Sayo, di ujung kampung kami diha-dang oleh sebagian masya-rakat Desa Tagolu yang me-nyampaikan bahwa di Km 9, Komp Wali Songo sudah ter-jadi penyerangan. Saya tidak mengerti mengapa bisa terjadi penyerangkan di Km 9 (komp. Wali Songo)?Perlu saya sampaikan juga bahwa untuk diketahui kehi-dupan antarumat beragama di Km 9 (Kompleks Wali Songo) sebelumnya sangat damai, rukun dan tidak ada konflik. Akan tetapi mengapa kehidu-pan yang damai rukun bisa mengakibatkan kehancuran? Apalagi mayoritas di Km 9 (Komp Wali Songo) adalah warga pendatang. Semua ini terjadi karena ada kepen-tingan-kepentingan tertentu baik pribadi maupun organi-sasi/ kelompok. Begitu pun karena api provokasi yang se-ngaja diciptakan, orang-orang yang tidak mau bertangung jawab karena tidak suka da-mai dan hanya mau memen-tingkan diri sendiri.Saya pun sangat berterima kasih bila penyampaian saya ini boleh menjadi pertimba-ngan bapak guna pengusutan lebih lanjut, dan saya tiap menjadi saksi apapun risiko yang akan saya terima demi keadilan dan kebenaran! Sa-ya pun sempat kecewa karena suara hati kami mulai per-sidangan tingkat pengadilan negeri, sampai peninjauan kembali ke Mahkamah Agung, belum diperhatikan secara hukum, semoga saatnya se-karang kebohongan publik tidak akan terjadi lagi. Semua yang melanggar hukum harus taat pada hukum dan perun-dangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Inilah yang dapat saya sampaikan dengan sebenarnya semoga teriakan hati nurani kami da-pat didengar sehingga bisa ter-ungkap kebenaran yang sebe-narnya. Terima kasih.(*/habis)

Komentar, 25 September 2006
Elemen Sulut Dukung Mahkamah Internasional

Rencana membawa masalah eksekusi terhadap Fabianus Ti-bo cs ke mahkamah internasio-nal didukung sejumlah kom-ponen masyarakat, termasuk dari Sulut. Anggota DPRD Min-sel, Johanes Jangin menga-takan, eksekusi tersebut adalah perbuatan kejahatan. ‘’Sehingga saya sangat setuju masalah ini dilaporkan ke mahkamah inter-nasional,’’ ungkap Jangin ke-pada koran ini, Sabtu (23/09). Sementara itu, Perwakilan keluarga tiga terpidana mati Tibo cs juga akan melaporkan kasus hukuman mati ke Mah-kamah Internasional karena mereka menilai eksekusi ter-hadap Tibo cs merupakan ke-jahatan yang dilakukan ne-gara terhadap warga nega-ranya. “Kami akan proses ini secara hukum. Kami juga akan melaporkan kasus ini ke Mahkamah Internasional atas perlakuan negara terhadap 3 warga negaranya secara tidak manusiawi,” kata salah satu perwakilan keluarga Tibo cs, Alexius M Adu, di kantor So-lidaritas Masyarakat Indonesia Timur di Jakarta, Jalan Hang Tuah Raya 19, Kebayoran Ba-ru, Jakarta Selatan, Sabtu (23/09).Alexius mengaku pihaknya memiliki bukti dan fakta bah-wa pemerintah telah melaku-kan pelanggaran HAM. “Ini bukan eksekusi, tapi ini pem-bantaian. Adat kami seha-rusnya saudara kami dima-kamkan sesuai adat dan aga-ma di timur,” tegas Alexius emosional.Sementara penasihat hukum Tibo cs, M Ardy Mbalembout, mengatakan, eksekusi Tibo cs merupakan kejahatan yang dilakukan oleh negara. “Tibo cs merupakan saksi kunci ter-hadap 16 orang yang diduga dalang atau pelaku utama ke-kerasan Poso III. Selama ini korban sudah membeberkan 16 orang ini di Polda Sulawesi Tengah,” kata Ardy seperti di-lansir detik.com.Menurut dia, sudah semes-tinya Tibo cs harus dilindungi sebagai saksi kunci. Namun sayangnya justru dieksekusi mati. Proses hukum terhadap ketiga terpidana mati itu di-nilai cacat. Ardy mengaku be-lum mengetahui mengenai identitas keenambelas orang yang dilaporkan oleh Tibo cs sebagai dalang kerusuhan di Poso. “Kejaksaan dan Polri sudah tahu dari nama-nama itu se-benarnya bisa dicek apa betul apakah dari sipil atau militer,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah Rinaldy Da-manik menyatakan mundur dari jabatannya. Alasan Ri-naldy mengundurkan diri karena merasa kecewa de-ngan pemerintah yang telah mengeksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, pada hari Ju-mat pukul 01.45 WITA lalu.Menurut Rinaldy, ia telah gagal meyakinkan pemerintah bahwa Tibo cs bukanlah da-lang dari kerusuhan Poso. “Tibo dkk hanyalah tumbal da-ri aktor-aktor intektual keru-suhan Poso 1998-2000. Bagai-mana mungkin tiga petani miskin dapat mendalangi kon-flik sedemikian besar,” kata Rinaldy yang dihubungi Sabtu (23/09). Rinaldy mengatakan, ia bertambah kecewa ketika me-ngetahui bagaimana kejak-saan dan kepolisian memper-lakukan jenazah Tibo dkk. Dominggus dikebumikan tan-pa ritual keagamaan, sedang-kan Tibo dan Marinus lang-sung diterbangkan ke Bete-leme, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah—sekitar 500 kilometer dari Palu. Padahal, anak istri Tibo dan Marinus sebelum eksekusi telah berada di Palu karena ingin me-lihat jenazah Tibo dan Marinus. “Ini adalah pelecehan agama dan pelanggaran berat HAM,” katanya. Rinaldy.(rik/dtc)

Komentar, 25 September 2006
Hari Ini, Deklarasi Minahasa Merdeka

UCAPAN Dolfie Maringka untuk mendeklarasi Gerakan Minahasa Merdeka (GMM) bukan hanya gertakan sam-bal. Janjinya untuk mende-klarasi GMM pascaeksekusi Fabianus Tibo cs, bakal diwu-judkannya hari (25/09) ini. “Kami akan mendeklarasi Ge-rakan Minahasa Merdeka esok (pagi ini, red) bertempat di Mi-nahasa Law Center, Jalan Sam Ratulangi,’’ ungkap Maringka ketika menelepon koran ini, tadi malam. Dikatakannya, sejumlah to-koh diundang di antaranya Dr Bert Supit dan mantan Wakil Walikota Manado, Teddy Ku-maat. ‘’Kami juga akan berdis-kusi nanti, ke mana Indonesia akan dibawa,’’ katanya seraya menyatakan tidak setuju aksi anarkis dalam merespons eksekusi Tibo cs. ‘’Kalau di Maumere dan Atam-bua disambut dengan bakar-bakar, itu kami tidak sependa-pat. Kami memilih jalan perjua-ngan elit. Kami meminta kemer-dekaan,’’ katanya. Maringka kemudian menjelaskan, per-mintaan kemerdekaan yang di-maksud. ‘’Maksud di sini ada-lah meminta kemerdekaan di bidang peran politik, baik lokal dan nasional. Merdeka di bi-dang pemberdayaan dan pengelolaan ekonomi daerah. Sebab sekarang ini otonomi hanya setengah hati. Kami juga meminta kemerdekaan dalam bidang beribadah di seluruh Indonesia,’’ tukasnya. Maringka yang menyatakan akan memimpin langsung GMM mengatakan juga, sudah tidak percaya lagi dengan NKRI, karena UU Aceh dan lahirnya perda-perda bernuansa SI (Sya-riat Islam). Berikut para tokoh garis keras juga secara jelas-jelas menyatakan untuk menja-dikan negara ini negara agama. Ditanya apakah deklarasi GMM sudah mendapat izin, Maringka malah mengatakan, tidak perlu izin. ‘’GAM juga kan nda minta izin. Pemerintah sendiri yang kasih tunjuk jalan kan? Oleh sebab itu, sudah saatnya kini Minahasa akan bersuara keras.’’(rik)

Komentar, 25 September 2006
PWN: Lebih dari satu lubang peluru di tubuh Tibo cs
Tibo Cs Diduga Disiksa Sebelum Dieksekusi

Poso Watch Network (PWN) mengatakan, ada indikasi bahwa Fabianus Tibo cs mengalami penganiayaan dan penyiksaan sebelum dieksekusi regu tembak, Jumat (22/09) dini hari lalu. Pasalnya, setelah digali, tubuh Tibo cs terdapat lebih dari satu lubang peluru, sedangkan tangan Dominggus da Silva patah. Henoch Saerang dari PWN da-lam Email-nya kepada Komentar kemarin (24/09) mengatakan, sesuai prosedur pelaksanaan hukuman mati/tembak, ha-nya ada satu peluru yang me-nembusi korban terpidana ma-ti. ‘’Tetapi saat jenazah Doming-gus digali kembali, ternyata ada lima lubang peluru di tubuh-nya, tangannya juga patah,’’ ungkap Saerang. Berikut, PWN juga meng-ungkapkan, di Beteleme, pada jazad Tibo terdapat 6 lubang, dan Marinus 5 lubang peluru. “Marinus, wajahnya remuk,’’ kata PWN, sehingga mereka menduga terpidana mati dite-ngara disiksa terlebih dahulu di suatu tempat. PWN juga me-nilai, pemaksaan eksekusi Tibo cs adalah hasil dari sebuah per-adilan sesat. PWN mengatakan, Jenderal Onggroseno mantan Kapolda Sulteng yang bertugas sekitar 6 bulan, lalu dicopot, justru se-telah melakukan penelitian dan pengkajian proses peradilan ke-tiga terpidana mati dan mewa-wancarai Tibo cs serta bebe-rapa pihak dan menyimpulkan bahwa hukuman mati Tibo cs adalah hasil sebuah peradilan sesat.Sementara itu, Minggu (24/09) kemarin, tiga terpidana ka-sus Poso yang dieksekusi mati, Fabianus Tibo, Marinus Riwu dan Dominggus da Silva telah dimakamkan di tiga tempat berbeda. Fabianus Tibo di ma-kamkan di pemakaman umum Desa Beteleme, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali, atau sekitar 500 km dari Palu, Ibukota Sulawesi Tengah. Se-mentara jenazah Marinus Riwu dimakamkan di Desa Molore, Kecamatan Petania, sekitar 40 km selatan Beteleme.Sedangkan jenazah Doming-gus da Silva dimakamkan di pemakaman keluarga Waidoko, Maumere, Kabupetan Sikka, Nusa Tenggara Timur. Proses pemakaman ketiga je-nazah ini berlangsung khid-mat, ribuan massa terutama Umat Katolik tampak mengi-ringinya. Dari Maumere dilaporkan, ke-datangan jenazah Dominggus disambut histeris ribuan war-ga. Ribuan orang membentuk pagar betis di sepanjang jalan yang dilalui kendaraan pe-ngangkut jenazah. Jenazah Do-minggus tiba di Bandara Waioti, Maumere, Minggu (24/09), sekitar pukul 12.30 Wita. Kedatangan jenazah disambut pihak keluarga dan sejumlah pejabat Pemda Maumere.Ribuan penduduk Maumere berdiri membentuk pagar betis di sepanjang jalan yang dilalui iring-iringan pengantar jena-zah. Banyak di antara mereka yang menangis histeris dan berdesakan ingin melihat lang-sung jenazah Dominggus.Dari Bandara Waioti, jenazah Dominggus sempat disema-yamkan di rumah ayah ang-katnya Anselmus da Silva se-lama 5 menit. Selanjutnya je-nazah dibawa ke Gereja Katolik Katedral St Yosef Maumere. Jenazah Dominggus kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga di Waidoko. Jenazah Dominggus dikubur di samping makam ayah kandungnya.(rik/dtc/*)

Berlembar Catatan Menjelang Ajal
Tempo, Edisi. 31/XXXV/25 September - 01 Oktober 2006

Tibo dan kawan-kawan berkukuh tak bersalah hingga dieksekusi mati. Kesaksian 12 halaman tulisan tangan diberikan hanya untuk wartawan Tempo Darlis Muhammad.
Penjara Petobo, Palu, Kamis petang, 21 September.Marinus Riwu dan Dominggus da Silva, dua terpidana mati kasus Poso, bergantian menulis. Berlembar-lembar kertas putih dipenuhi dengan huruf kapital. Sesekali mereka menunjukkan tulisannya kepada Fabianus Tibo, terpidana mati kasus yang sama. Tibo mengangguk setuju.
Landasan Pacu Bandara Mutiara, Palu, Jumat dini hari, 22 September.Mata Tibo dan kedua kawannya tertutup. Tanda putih dilekatkan di dada kiri. Tiga regu penembak berada lima belas langkah di depan mereka. Hujan rintik. Lampu dipadamkan. Sekejap kemudian peluru mendesing. Ketika menyala kembali, mereka sudah terkulai.
NYAWA ketiganya melayang di ujung bedil regu tembak dari Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Pengadilan menyatakan mereka terbukti melakukan penyerangan berencana ke sejumlah tempat dalam kerusuhan Poso, enam tahun silam. Berbagai upaya mencari keringanan hukuman telah mereka tempuh sejak vonis dijatuhkan hakim di Pengadilan Negeri Palu pada 2001, tapi gagal.
Hingga menjelang ajal, mereka berkukuh tak bersalah. Keyakinan itu tertuang dalam tulisan di 12 lembar kertas yang dibuat hanya beberapa jam menjelang eksekusi. Tulisan itu dibuat setelah Tempo menyodori pertanyaan kesiapan mereka menghadapi eksekusi, lewat Pastor Jemmy Tumbelaka, pendamping mereka.
Bagi Tibo dkk., pertanyaan itu tak relevan. Yang lebih penting diungkapkan adalah versi mereka tentang kerusuhan Poso, yang sudah berkali-kali diutarakan di persidangan. Itulah yang mereka tuliskan. Ketahanan membuat catatan panjang menggambarkan suasana hati mereka yang tenang menjelang ajal.
Ajal ketiganya dipastikan setelah tim dokter memeriksanya. Salah satu dokter tim yang membuka pertama penutup mata Tibo bersaksi. Kulit cokelat pria 60 tahun itu memutih bersih. Hanya gerahamnya sedikit terkatup mungkin menahan rasa sakit. ”Seperti orang tidur saja,” katanya kepada Tempo.
Tibo memang sudah siap lahir batin menghadapi eksekusi mati sejak terangkatnya kasus Poso. Kepada Robertus Tibo anak sulungnya, Om Tibo—panggilan kakek satu cucu kelahiran Flores ini—berpesan agar tak dendam kepada orang-orang yang membencinya. ”Maafkan mereka,” kata Robert kepada jemaat peserta misa arwah di Gereja Katolik Santa Maria Palu selepas eksekusi.
Dua temannya juga sama siapnya. Adrianus Hode, salah satu anggota tim advokasi Tibo dari Padma Indonesia, bercerita tentang Marinus yang masih bisa ketawa-tawa sembari mengisap rokok kretek menjelang eksekusi. Bagi pria kelahiran Kupang 49 tahun ini, mati adalah bagian dari hidup. ”Kalau mau eksekusi saya, saya siap saja,” kata Marinus dalam percakapan dengan Adrianus, ketika itu.
Ketegangan justru terjadi di luar penjara. Sejak Kamis pagi, tak banyak pegawai Kejaksaan Negeri Palu memasuki kantornya di Jalan Sam Ratulangi. Suasana serupa terjadi di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Pejabat yang biasanya ramah meladeni tamu mendadak bungkam. Puluhan polisi bersenjata laras panjang membentengi kantor mereka.
Pada pagi yang sama polisi mulai melokalisasi penjara Petobo dengan membentang tali kuning pembatas. Tak seorang pun diperbolehkan masuk. Warga yang ingin melintas di depan penjara hanya boleh berjalan kaki. Kendaraan silakan berputar. Lokasi ini dipagar betis pasukan bersenjata.
Siang harinya diadakan misa pertobatan bagi Tibo dan teman-temannya di gedung itu. Hanya 25 kerabat dan keluarga yang diizinkan ikut. Keluarga Dominggus da Silva, pria kelahiran Maumere 39 tahun lalu, tak tampak. Ratusan umat mengikuti misa yang dipimpin Pastor Jemmy Tumbelaka dan Pastor Melky Toreh itu dari luar pembatas. Mereka bubar setelah misa usai.
Beberapa jam kemudian, tiga tim regu tembak dari Brimob Polda Sulawesi Tengah mulai menyiapkan diri di kawasan Gunung Ngata Baru. Mereka mengendap di bukit yang dikenal dengan sebutan Bukit Soeharto itu enam jam menjelang eksekusi. Pasukan di bawah satuan Brimob ini dibentuk sejak rencana eksekusi pertama, Desember tahun lalu.
Kembali ke Palu. Kerumunan umat Katolik berkumpul di Gereja Santa Maria di Jalan Tangkasi saat gelap sudah datang. Mereka mendoakan Tibo dan teman-temannya. Sementara di jalanan hanya tampak polisi berjaga-jaga dengan senjata laras panjang. Jumlah polisi kian banyak menjelang dini hari. Ibu kota Sulawesi Tengah itu terasa sepi di bawah guyuran hujan sejak sore, yang sudah lama tak turun.
Pengacara Tibo dari Padma Indonesia, Roy Rening, dan Pastor Jemmy ikut tegang. Pesan pendek masuk ke telepon seluler Roy dari seorang polisi. Dia diminta bersiap menuju lokasi eksekusi pukul 21.30 WITA. Roy menolak, ”Saya mau datang kalau petugas kejaksaan yang memanggil,” lalu matikan telepon selulernya.
Tak selang lama, Pastor Jemmy mendapat telepon dari Jakarta. Dia dikabari, eksekusi ditunda. Kabar ini membuat umat di dalam gereja spontan berucap syukur. Suasana riuh, ada yang langsung bernyanyi, ada pula yang menenangkan jemaat.
Suasana berbeda terjadi di Penjara Petobo. Persiapan eksekusi makin kencang. Tiga mobil Kijang, dua ambulans dan truk Brimob hilir-mudik di pelataran luar penjara. Lima belas menit setelah dini hari, tiba-tiba lampu penjara padam diiringi suasana gaduh di dalam penjara. Setengah menit kemudian lampu menyala lagi.
Sebuah truk tertutup loreng meluncur cepat dari dalam penjara, disusul mobil Kijang berisi anggota Brimob berpenutup kepala ala ninja. Pukul 01. 45 WITA, Tibo dieksekusi di Desa Peboya, ujung Bandara Udara Mutiara, Palu. ”Perjuangan melelahkan untuk sementara berhenti,” kata Pastor Jemmy.
Duka mengguyur ratusan umat di Gereja Santa Maria. Tangisan melengking sejadi-jadinya. Robert Tibo dan istrinya, serta dua adiknya Bernadus Bofi dan Frangki Hengki, berpelukan. Istri Marinus, Yasinta, hanya bisa mendekap tiga baju bola kesayangan suaminya. Tiga baju itulah satu-satunya warisan Marinus buat ke empat anaknya.
Pengumuman resmi soal eksekusi itu diucapkan juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Polisi Muhammad, esok harinya. Dia menyatakan proses hukum kasus Poso tetap berlanjut. Tibo dkk. bukan bukan satu-satunya kunci dalam kasus Poso. Polisi tetap mengusut dugaan keterlibatan 16 pelaku yang disebut-sebut Tibo ikut terlibat. ”Selama ada bukti,” katanya kepada Tempo.
Dari Jakarta, juru bicara Kejaksaan Agung I Wayan Pasek Suartha mengatakan, jenazah Tibo dan Marinus dikuburkan di tanah tempat tinggal mereka, di Morowali, Sulawesi Selatan. Sedangkan jenazah Dominggus dikebumikan di Pekuburan Kristen Peboya, Palu.
Enam jam selepas eksekusi, rusuh membelah Atambua dan Maumere, Nusa Tenggara Timur. Massa tidak bisa terima perlakuan yang dijatuhkan kepada Tibo dan kawan-kawan. Ribuan orang di Atambua merusak kantor kejaksaan negeri dan membakar rumah dinas jaksa di Jalan Timor Raya. Penjara Atambua dijebol, 205 tahanan kabur.
Aksi mereda setelah Uskup Atambua Mgr. Antonius Painratu bersama pejabat setempat turun tangan. Warga berangsur-angsur kembali ke rumah, 32 tahanan yang kabur menyerahkan diri lagi. Sedangkan di Maumere, kerusuhan menyebabkan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan kantor kejaksaan negeri rusak.
Juru bicara Markas Besar Kepolisian RI Inspektur Jenderal Paulus Purwoko mengingatkan, eksekusi Tibo semata-mata pertimbangan hukum. Dia minta masyarakat menjunjung hukum dan tidak membuat interpretasi sendiri-sendiri berdasarkan kepentingan atau solidaritas kelompok.
Eduardus Karel Dewanto, Jems De Fortuna (Kupang)