SUARA PEMBARUAN DAILY
Empat Kabupaten di Sulteng Krisis Premium
[PALU] Sejumlah empat kabupaten di Sulawesi Tengah (Sulteng) yakni Kabupaten Poso, Morowali, Tojo Una-una dan Banggai sejak dua pekan terakhir mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) khususnya jenis premium.
Akibat kelangkaan tersebut harga premium di ke empat daerah ini melonjak tajam hingga Rp 10.000 per liter.
Pemantauan SP di Poso Selasa-Rabu (22-23/5) terjadi antrean panjang di dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di daerah bekas konflik tersebut. Warga yang antre mengeluh karena petugas SPBU lebih melayani permintaan melalui jerigen-jerigen dari pada kendaraan bermotor yang sudah menunggu hingga berjam-jam.
"Orang-orang yang membawa jerigen langsung dilayani, dan ada yang membawa sampai 3 jerigen satu orang, dan jumlah mereka banyak. Akhirnya bensin habis dan banyak pemilik kendaraan terpaksa pulang kosong tanpa memperoleh bensin," kata Bayu, seorang warga Poso.
Menyusul kelangkaan BBM tersebut harga premium di Poso di tingkat eceran melonjak hingga Rp 10.000 dari biasanya Rp 5.000 per liter.
"Para pemilik kios memanfaatkan dengan membeli di SPBU menggunakan jerigen lalu menjual dua kali lipat di tingkat eceran," ujar Bayu.
Di Morowali, Tojo Una-una dan Banggai juga mengalami krisis premium. Para pemilik kendaraan mulai resah karena walau sudah antre berjam-jam tapi tidak berhasil mendapatkan bahan bakar vital tersebut. Para pemilik moter ojek mengaku paling merasakan kelangkaan bensin tersebut.
"Sudah seminggu ini saya tidak bisa beroperasi karena tidak bisa dapat bensin. Kalaupun ada tapi harganya mahal sampai Rp 10.000 di eceran," ujar Hamid (34) seorang pengendara ojek di Luwuk, ibukota Banggai.
Membantah
Said, salah seorang petugas SPBU di Ampana, Tojo Una-una mengatakan kelangkaan bensin di SPBU-nya diakibatkan adanya pengurangan pasokan dari pihak Pertamina.
"Biasanya kita dapat jatah 3 mobil tangki dengan isi 15.000 liter tapi sejak tiga hari lalu dikurangi jadi 2 mobil tangki saja," ujar Said pada wartawan di Ampana Selasa.
Kelangkaan bensin tersebut juga memukul para pemilik sopir angkot di keempat wilayah itu. Mereka meminta pihak Pertamina menjelaskan kenapa terjadi kelangkaan dan meminta pelayanan di SPBU harus adil jangan mengutamakan para pemilik jerigen yang membeli di Pertamina lalu menjual lagi dengan harga mahal di tingkat eceran.
Pelaksana Harian Kepala Pertaminan Uni VII Depot Ampana, Satria yang ditanya tentang kelangkaan tersebut membantah adanya pengurangan pasokan premium dari Pertamina.
"Kelangkaan ini karena ada keterlambatan kapal yang masuk membawa BBM ke Ampana, tapi mungkin Rabu ini kapal sudah masuk sehingga stok lancar kembali," katanya.
Senada dengan itu Kepala Depot Pertamina Poso, Syahabuddin Latief mengatakan stok premium di Poso langka karena katerlambatan kapal yang menyuplai BBM ke daerah ini.
"Tapi saya jamin dalam dua hari lagi kelangkaan ini akan berakhir," katanya.
Palangaka Raya
Sementara itu, bahan bakar minyak (BBM) jenis premium menghilang dari kalangan pengecer di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).
Semua pengecer yang membuka kios di pinggir jalan di dalam ibu kota provinsi ini terpaksa tutup.
Kendaraan roda dua pun terpaksa melakukan antrean panjang guna mendapat bensin di Stasiun Pengisian Bakar Umum (SPBU).
Menan (41), pengecer bensin di Jalan RA Kartini Palangka Raya kepada SP, Rabu (23/5) mengatakan, kios yang dipakai untuk mengecer bensin terpaksa ditutup. Semua SPBU tidak mau menjual kepada pengecer yang datang mengisi jeriken langsung ke SPBU.
Dikatakan, sejumlah SPBU sudah dia datangi, tetapi tidak satu pun yang mau mengisi jerikennya karena tidak ada lagi bensin persediaan untuk eceran, sehingga kios terpaksa ditutup saja, katanya.
Akibat tidak ada lagi pengecer bensin di pinggir jalan, sehingga semua kendaraan yang memerlukan bensin rela antre untuk mendapat bensin di SPBU.
Untuk mendapatkan minyak di SPBU pun tidak mudah harus antren panjang dan memakan waktu dua jam lebih baru bisa mendapatkan minyak mengisi kendaraan.
Udin (32), petugas SPBU di Jl Gobos Palangka Raya, mengatakan, tidak beroperasi dua mesin yang mereka gunakan karena persediaan minyak habis.
Hanya saja mereka tidak mengetahui persis apa penyebab hingga persediaan untuk kebutuhan distribusi di SPBU terlambat datang.
Antrean juga terlihat cukup panjang pada SPBU di Jalan RTA Milono, Jalan A Yani, Jalan S Parman, dan Jalan Cilik Riwut Palangka Raya.
Rachman (37), petugas SPBU di Jalan S Parman Palangka Raya, mengatakan, terjadi antrean panjang itu karena semua SPBU memiliki persediaan terbatas akibat terlambat pemasokan dari Pertamina Depot Pulang Pisau.
"Terhambatnya pemasokan dilakukan ke Palangka Raya karena meluapnya Sungai Kahayan hingga arusnya sangat deras," katanya. [128/106].
Last modified: 23/5/07
Wednesday, May 23, 2007
Posted
@
8:20 PM
0
comments
Friday, May 18, 2007
SUARA PEMBARUAN DAILY
Peringatan Kenaikan Isa Almasih di Palu dan Poso
[PALU] Peringatan kenaikan Isa Almasih di Palu dan Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (17/5), diwarnai kegiatan ibadah di gereja-gereja dalam suasana penuh kesederhanaan.
Di Palu, dua gereja besar yakni Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Jemaat Immanuel dan Gereja Katolik Santa Maria Palu dibuka sejak pagi hingga malam hari untuk pelayanan ibadah khusus perayaan kenaikan Isa Almasih.
Di kedua gereja tersebut pada puncak ibadah dilaksanakan upacara perjamuan kudus dan memakan roti tidak beragi oleh seluruh jemaat. Upacara ini sebagai simbol pengakuan dosa dan memperoleh pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus, Juru selamat dunia.
Di Poso dilaporkan gereja-gereja juga penuh sesak dengan umat kristiani yang merayakan ibadah memperingati hari kenaikan Isa Almasih.
Warga dengan khidmat mengikuti ibadah dan tampak polisi juga masih berjaga-jaga di semua gereja yang melaksanakan ibadah.
Namun, sejak polisi dengan tegas menangkap para pelaku kerusuhan dan teror di Poso, situasi keamanan di daerah ini sejak Februari terus aman dan kondusif.
Tidak pernah lagi terdengar bunyi ledakan bom dan penembakan yang membikin trauma warga.
"Kami merasakan suasana yang damai dan sangat aman, belum pernah suasana seperti ini terjadi sejak 8 tahun konflik Poso pecah Desember 1998. Terima kasih Tuhan, engkau telah menjawab doa-doa kami," kata Evi, se orang warga Poso. [128]
Last modified: 18/5/07
Posted
@
10:09 PM
0
comments
Thursday, April 19, 2007
SUARA PEMBARUAN DAILY
Menko Kesra: Rumah Ibadah Sudah Rusak Sebelum Ditempati
[POSO] Menko Kesra Aburizal Bakrie menyoroti pembangunan sejumlah rumah ibadah yang dibiayai World Food Programme (WFP) di Poso. Rumah-rumah ibadah itu belum digunakan, tapi atapnya sudah bocor dan plafonnya robek-robek akibat terkena hujan.
"Ini menunjukkan hasil pekerjaan sangat tidak profesional. Tidak ada alasan, kontraktornya harus segera memperbaiki kembali kerusakan itu," tegas Aburizal, seusai mengunjungi rumah-rumah ibadah itu di kawasan Poso Pesisir dan Poso Kota, Selasa (16/4).
Ia didampingi Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) HB Paliudju ke Palu dan Poso untuk mempersiapkan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 April (ke Palu) dan 1 Mei (ke Poso).
Rumah-rumah ibadah, baik masjid dan gereja yang dibangun dengan dana WFP di Poso, termasuk proyek-proyek yang akan diresmikan Presiden Yudhoyono pada 1 Mei di Poso.
Menurut data, 10 rumah ibadah di Poso terdiri dari 5 masjid dan 5 gereja dan sebuah Rumah Sakit Cinta Kasih di Tentena, dibangun dengan dana dari WFP tahun 2006 senilai Rp 10 miliar.
Aburizal sempat meninjau beberapa dari rumah ibadah itu antara lain sebuah masjid (belum ada nama) di Desa Tokorondo dan Tiwaa (Poso Pesisir), Masjid An-Nur di Kelurahan Bone Sompe, Gereja Katolik Santa Theresia di Kelurahan Maengko, Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Jemaat Pniel di Kelurahan Lombogia (Poso Kota).
Peletakan batu pertama pembangunan rumah-rumah ibadah yang dibangun dana WFP tersebut, dilakukan Menko Kesra pada Mei 2006 di Poso. Namun, ia mengaku sangat kecewa karena menyaksikan atap-atapnya sudah bocor dan plafonnya pada robek akibat terkena hujan, terutama kerusakan yang dilihatnya langsung di Masjid An-Nur dan Tiwaa serta Gereja Katolik Santa Theresia, selain bangunannya tak rapi juga atapnya bocor dan plafonnya pada robek.
"Saya minta semua kerusakan ini diperbaiki sebelum diresmikan bapak Presiden," tegasnya saat berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda se-Kabupaten Poso di aula rumah jabatan Bupati Poso Selasa siang.
Ia menilai kontraktor yang ditunjuk mengerjakan proyek-proyek vital itu kurang memiliki tanggung jawab sehingga pekerjaannya tidak memenuhi harapan semua orang.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Poso, S Pelima yang ditanya soal pengawasan atas pembangunan rumah-rumah ibadah itu mengaku sama sekali tidak dilibatkan dalam proses pengawasan.
Demikian juga Bupati Poso Piet Inkiriwang mengaku mendapat laporan setelah rumah ibadah itu selesai dikerjakan.
Secara umum, situasi Poso sudah kondusif dan cukup memungkinkan bagi Presiden Yudhoyono untuk datang ke daerah ini, katanya. [128]
Last modified: 17/4/07
Posted
@
10:31 AM
0
comments
Wednesday, April 18, 2007
SUARA PEMBARUAN DAILY
Presiden Resmikan 3 Proyek Besar di Poso
[PALU] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 April dan 1 Mei akan berkunjung ke Poso dan Palu. Di Poso akan meresmikan dimulainya pembangunan tiga proyek besar, yakni pembangunan pondok pesantren modern di Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir serta panti asuhan dan sekolah dasar di Tentena, Kecamata Lore Utara, Kabupaten Poso.
Sedangkan di Palu, selain meninjau sejumlah proyek nasional, pemberdayaan masyarakat miskin, Presiden Yudhoyono juga akan meresmikan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mpanau dan Jembatan Teluk Palu yang menelan investasi sekitar Rp 350 miliar serta membuka Simposium Pemuda Indonesia tentang Resolusi Konflik.
Untuk memantapkan rencana kunjungan tersebut, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Senin (16/4) selama dua hari datang ke Palu dan Poso. Di kedua daerah ini, Aburizal mengadakan pertemuan dengan jajaran pemerintah, tokoh masyarakat, agama, dan pemuda di daerah ini.
Menurut Aburizal, salah satu persiapan yang menjadi pertimbangan adalah faktor keamanan. "Tapi, tadi saya sudah dapat jaminan dari Kapolda dan Kepala Staf Korem di sini bahwa situasi keamanan cukup kondusif untuk dikunjungi presiden," katanya seusai pertemuan tertutup dengan Gubernur Sulteng HB Paliudju, Ketua DPRD Murad Nasir, Kapolda Brigjen Pol Badrodin Haiti, Kasrem 132/Tadulako Letkol Inf Alfred serta sejumlah kepala daerah tingkat II di Sulteng, Senin siang, di Palu. Hari Selasa pagi, Abu Rizal melanjutkan pertemuan di Poso dan Tentena.
Pemerintah memberi perhatian khusus bagi upaya percepatan pembangunan Sulteng, termasuk Poso pascakonflik. Gubernur Paliudju telah diminta membuat rancangan program percepatan pem- bangunan Sulteng, dan bulan Juli sudah bisa dipresentasikan di hadapan Presiden Yudhoyono di Jakarta agar bisa direalisasikan secepatnya.
Salah satu proyek pemberdayaan masyarakat miskin yang akan ditinjau Presiden Yudhoyono dalam kunjungannya ke Palu, yakni mesin sepeda motor yang berhasil diciptakan dengan menggunakan bahan bakar campuran air dan bensin. [128]
Last modified: 16/4/07
Posted
@
11:14 AM
0
comments
Monday, April 16, 2007
Rev. Susianti a mistaken target in Poso church shooting
Ruslan Sangadji, The Jakarta Post, Palu, April 16, 2007
Dressed in black trousers and jackets, two men stepped off their motorcycles and walked casually toward Efatha church in the South Palu district of Central Sulawesi, one of them carrying an M-16 rifle.
At the entrance to the church, one of the men, Basri alias Bagong, shot the reverend who was giving a sermon twice. Rev. Susianti Tinulele fell to the floor bleeding.
The other man, Anang Muhtadin alias Papa Enal, watched from outside the church, carrying an SS-1 rifle.
After killing Susianti, Basri and Papa Enal left the church and returned to their motorcycles where Iwan Irano and Ardin were waiting to drive them to Karanjalemba street one kilometer away where Haris was waiting.
Basri and Papa Enal gave their rifles to Haris and Abdul Muis who took the motorcycles and the rifles back to their headquarters in the BTN Palupi housing complex in South Palu.
Basri and Iwan Irano returned to Poso using the Alugoro travel service, while Papa Enal and Ardin returned to Poso with New Armada travel.
The chain of events at the church were presented Saturday during a case reconstruction of Susianti's murder, which took place on July 18, 2004.
Based on suspects' testimonies, the men's original target was not Susianti, but Rev. Irianto Kongkoli, who at the time was conducting a service for displaced people in Poso at another church and had been replaced by Susianti.
"After questioning suspects, we learned that the real target of the shooting was Rev. Irianto Kongkoli," Central Sulawesi Police chief Brig. Gen. Badrodin Haiti told The Jakarta Post at the site of the case reconstruction on Saturday.
Rev. Irianto Kongkoli, the secretary general of the South Sulawesi Christian Church, was shot dead in October last year while shopping with his wife in Palu.
His murder was condemned by both Christians and Muslims. Irianto was known for his close relationships with Muslim leaders in Palu and was involved in promoting a peaceful resolution to the conflict, while often staunchly criticizing the poor performance of security forces in the province.
Badrodin said that before shooting Rev. Susianti, the suspects were called to a housing complex in Poso where they were assigned by Haris to shoot a reverend in Efatha church.
After receiving their instructions, the suspects then surveyed the location and the route they would take before and after the shooting.
Previously, Ardin told the Post that after the shooting he took the motorcycles back to Karanjalemba and then returned to the site of the shooting.
"We were at the location of the shooting when the police arrived and were placed in the police line. Only the police did not recognize us because we mingled with the crowd," Ardin said.
He said that after confirming their target was dead, they went back to Poso on public transport.
The vehicles they were traveling in were stopped and searched outside the Central Sulawesi Police office in the Mamboro subdistrict in North Palu.
"We stepped out of the vehicle but again were not recognized by police and could escape again," Ardin said.
Posted
@
8:51 PM
0
comments