Monday, July 03, 2006

Bom Meledak Kembali di Poso
Minggu, 02 Juli 2006 18:13 WIB

TEMPO Interaktif, Palu: Sebuah bom yang bersuara keras meledak di dalam Gereja Eklesia, Kelurahan Gebang Rejo, Kota Poso, pada Sabtu (1/6) sekitar pukul 22.15 Wita. Ledakannya terdengar radius 3 kilometer dari lokasi ledakan. Kondisi Gereja yang sedang direnovasi itu berantakan, tapi tak ada korban jiwa.Ledakan itu membuat warga Poso yang sedang menunggu laga piala dunia antara Inggris dan Portugal berhamburan menuju lokasi ledakan. Aparat keamanan juga langsung menuju lokasi ledakan memasang police line dan melakukan penyelidikan awal. Komandan Komando Operasi Pemulihan Keamanan Sulawesi Tengah, Inspektur Jenderal Polisi Paulus Purwoko, mengatakan dari hasil penyelidikan sementara, ledakan itu berasal bom rakitan. "Tapi itu hanya bom hampa, karena tidak ada pembungkus logam,” kata dia, hari ini.Juru Bicara Polda Sulawesi Tengah, AKBP M Kilat, mengajak warga Poso untuk tidak terpancing dengan adanya ledakan bom itu. "Kami minta warga Poso untuk tetap tenang seperti dua bulan belakangan ini,” ujarnya. Jangan terpancing isu bom itu sebagai rekayasa perpanjangan operasi pemulihan keamanan di daerah itu.Darlis

2 July 2006
Warga Poso Tidak Terusik dengan Ledakan Bom
Palu, Minggu

Sekalipun terjadi ledakan bom di kompleks sebuah rumah ibadah dalam kota Poso, Sulawesi Tengah, pada Sabtu tengah malam (1/7), masyarakat setempat sama sekali tidak terusik dengan peristiwa tersebut. Aktivitas masyarakat di daerah itu sejak pagi hingga malam hari berjalan seperti biasa. Arus lalu-lintas angkutan kota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan kota antarprovinsi (AKAP) yang meliwati jalan Trans-Sulawesi di sepanjang wilayah Kabupaten Poso serta kendaraan angkutan kota dan sepeda motor ojek di kota Poso berjalan lancar. Bahkan aktivitas jual-beli di Pasar Sentral Poso sepanjang hari ini berlangsung semarak, ditandai dengan kepadatan konsumen yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi di daerah kami, sebab antara kelompok muslim dan kristen yang sebelumnya terlibat pertikaian sudah membaur satu sama lain," kata Ny. Maritje (42), warga asal desa Silanca di pinggiran kota Poso saat ditemui di Pasar Sentral Poso. Penjual sayur-mayur tersebut menduga peristiwa ledakan bom dan bunyi letusan senjata api dengan tanpa sasaran korban di daerahnya yang kembali terdengar kurun dua pekan terakhir, hanya merupakan tindakan provokasi oleh oknum tak bertanggungjawab yang menghendaki daerah Poso kembali kacau. "Tapi itu perbuatan sia-sia, sebab sebagian besar masyarakat di sini sudah bersepakat untuk hidup secara damai dan wajar, karena sudah muak dengan pertikaian yang justru merugikan semua pihak," tuturnya. Sementara itu, informasi diperoleh dari Mapolres Poso mengungkapkan kehidupan masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Poso dalam kondisi aman dan tenang. "Masing-masing warga, baik yang berada di ibukota kabupaten, ibukota kecamatan, maupun yang menetap di pedesaan melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Termasuk umat Kristiani tetap menjalan Ibadah Raya Minggu dengan tenang di gereja masing-masing," kata seorang polisi setempat. Polisi yang tak bersedia disebutkan namanya itu menduga bahwa ledakan bom dan bunyi letusan senjata api ke udara yang selalu terdengar di kota Poso kurun dua pekan terakhir, hanya merupakan "show force" dari sisa-sisa kelompok radikal yang masih ada di daerahnya. "Tujuannya semata-mata hanya untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka masih ada," tuturnya, seraya menambahkan aparat keamanan sudah menyatakan tekadnya untuk membersihkan semua pelaku teror yang mengganggu kehidupan masyarakat luas. Sebuah ledakan cukup keras diduga bersumber dari bom rakitan "low eksplosif" Sabtu tengah malam (1/7) terjadi di sekitar bangunan Gereja Pantekosta Eklesia di Jln Pulau Seram, Poso Kota. Ledakan pada pukul 21:30 Wita itu tidak menimbulkan korban jiwa atau cedera, kecuali mengakibatkan kerusakan kecil dalam bangunan gereja yang sedang dalam perbaikan. Tim Gegana Brimob Polda Sulteng yang sedang bertugas di Kabupaten Poso sesaat setelah terjadi ledakan segera meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan penyelidikan. Sejumlah saksi mata yang tinggal di sekitar TKP menyatakan, beberapa saat setelah terjadi ledakan yang terdengar hingga radius satu kilometer, mereka sempat melihat kepulan asap dari dalam bangunan gereja yang lagi kosong dengan jemaat. "Kami tak melihat adanya orang keluar dari dalam bangunan gereja, kecuali menyaksikan kepulan asap dari dalam sesaat setelah terjadi ledakan," kata para saksi mata melaporkan kepada penyidik polisi. Peristiwa ledakan bom sehari menjelang peresmian "Tugu Perdamaian" di kota Poso oleh Gubernur Sulteng HB Paliudju tersebut, merupakan kedua kalinya kurun sepekan terakhir.Sumber: Antara

Sunday, July 02, 2006

Gereja Eklesia Poso Dibom
Laporan Wartawan Kompas Reinhard Marulitua N
1 July 2006

PALU, KOMPAS - Sebuah bom meledak di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Eklesia Jalan Pulau Seram, Poso, Sabtu (1/7), sekitar pukul 22.15 Wita. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa itu. Namun, suara ledakan yang terdengar sampai radius dua kilometer dari lokasi kejadian membuat ratusan warga Poso panik dan berhamburan keluar rumah.
Beberapa menit setelah ledakan, puluhan polisi dari Kepolisian Resor Poso,diantaranya Tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak), langsung menuju lokasi dan melakukan penyisiran untuk menemukan sisa-sisa ledakan. Namun sampai pukul 23.15, polisi belum menemukan satupun serpihan bom. Aparat polisi juga belum dapat memastikan apa motif peledakan bom tersebut.
GKST Eklesia adalah satu dari puluhan gereja yang dibakar saat terjadi konflik horizontal di Poso pada tahun 1998-2001. Renovasi gereja itu baru direncanakan bulan lalu dan sampai kemarin belum dimulai.

Saturday, July 01, 2006

Sabtu, 01 Juli 2006 - 14:05 wib

26 Amunisi Ditemukan di Poso Laporan Wartawan Kompas Reinhard Marulitua N
PALU, KOMPAS--Sebanyak 26 amunisi ditemukan di atas plafon sebuah dealer sepeda motor yang terletak di Jalan Sumatera, Poso, Sabtu (1/6). Amunisi kaliber 5,6 mm dan 3,8 mm yang biasanya digunakan untuk senjata api laras panjang dan laras pendek itu ditemukan Bakrie (37)--seorang buruh bangunan yang tengah mengerjakan instalasi listrik di dealer tersebut.
Setelah menemukan amunisi itu sekitar pukul 11.30 Wita, Bakrie langsung melaporkannya ke Markas Kepolisian Resor Poso. Sampai pukul 14.00 Wita kemarin, polisi belum dapat memastikan siapa pemilik amunisi tersebut. Sedangkan pemilik dealer tidak berada di tempat.
"Kami masih menyelidiki siapa pemiliki amunisi itu. Pihak dealer tentu akan diperiksa," kata Wakil Kepala Polres Poso Komisaris Polisi Minarto sembari menghimbau agar warga Poso yang menemukan senjata api segera melaporkan kepada polisi.

SUARA PEMBARUAN DAILY
Ribuan Pengungsi Poso Masih Tinggal di Barak
[PALU] Ribuan warga Poso, Sulawesi Tengah, saat ini masih tinggal di barak-barak sebagai pengungsi. Sebagian besar mengaku masih enggan kembali ke rumah asalnya karena merasa belum yakin dengan jaminan keamanan. Sementara sebagian lagi belum mendapat jatah bantuan perumahan dari pemerintah.
Para pengungsi Poso yang masih tinggal di barak-barak terutama di kawasan Kecamatan Poso Pesisir dan Lage. Mereka umumnya adalah warga Kecamatan Poso Kota dan Tentena, Kecamatan Lore Utara. Sebagian lagi bertahan di daerah Napu, Kecamatan Lore Selatan dan Kota Palu, ibu kota Sulteng.
"Untuk sementara kami masih belum mau kembali ke Poso. Kami belum yakin sepenuhnya dengan jaminan keamanan jika kembali ke sana," kata Ny Togani, pengungsi Poso yang masih bertahan di Napu, sekitar 110 kilometer dari Poso.
Data dari Dinas Kesejahteraan Sosial Poso memperkirakan jumlah warga Poso yang masih mengungsi sampai saat ini mencapai 5.000 keluarga atau sekitar 25.000 jiwa. Kehidupan mereka sangat menyedihkan. Tidur di kamar yang hanya berukuran 4 x 4 meter, berdinding papan, atap seng, beralaskan tanah dan sebagian besar sudah reyot karena hanya dibangun secara darurat sejak tahun 2002.
Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Sulteng, Sahsan Tiangso yang dikonfirmasi Jumat (30/6) pagi mengatakan data riil mengenai jumlah pengungsi Poso masih sedang dihitung kembali.
"Tolong bisa beri saya waktu beberapa hari ini untuk mendapatkan data akurat," kata Sahsan. [128]
Last modified: 30/6/06