Saturday, March 24, 2007

Orang-orang yang Ditangkap di Yogya Terkait Kasus Poso
Jum'at, 23 Maret 2007 20:06 WIB

TEMPO Interaktif, Solo: Dugaan polisi tentang bahan peledak yang ditemukan di ukoharjo, Jawa Tengah, berkaitan dengan kasus Poso kian mendekati kebenaran. Polisi memastikan, tersangka yang bernama Anang Mujadid alias Brekele alias Saiful alias Anam alias Joko, terkait kasus Poso. Tersangka selama ini diburu karena sudah dimasukan dalam daftar pencarian orang.Brekele adalah satu dari tujuh tersangka yang ditangkap polisi di yogyakarta, Selasa lalu. "Dia sempat dibawa pulang ke rumahnya di Temanggung," kata seorang perwira polisi Polda Jawa Tengah, kepada TEMPO, Jum'at (23/3).Tersangka saat ini mendapat tengah dirawat di RS Bayangkara Yogyakarta. Bahunya cedera setelah diterjang timah panas petugas. Belum diketahui secara jelas, penembakan terhadap Anang itu terjadi Yogyakarta atau di Temanggung saat dia digiring polisi menunjukan rumahnya. "Anang memang sempat dibawa ke rumahnya untuk mencari beberapa barang bukti yang mungkin disimpan di rumahnya," kata sumber tersebut.Anang Mujadid tinggal di rumah kontrakkan bersama isteri dan dua anaknya di Dusun Kebonsalak, Desa Purwosari, Kecamatan Kranggan, Temanggung. Menurut sumber yang sama, Anang sebenarnya berasal dari Palembang. Dia tinggal di Jawa sebagai perantau dan beberapa tahun lalu pergi ke Poso.Perwira Menengah di Polda Jawa Tengah tersebut meyakini mereka yang sudah ditangkap merupakan jaringan teroris di Poso. Dia mengatakan senjata api rakitan maupun organik --M-16 dan pistol revolver -- yang ditemukan merupakan persenjataan yang digunakan untuk peperangan di daerah konflik. Sumber itu menduga barang itu akan dikirim ke Poso namun karena aparat di Poso memperketat keluar masuk daerahnya, pengiriman itu tertunda. "Dari Semarang dulu dikirim bahan peledak atas nama Hasyim, tapi sampai sekarang belum diketahui pengirim sebenarnya," ujar sumber tadiImron Rosyid

Komentar, 24 Maret 2007
Surat wasiat teroris ditemukan Densus 88
Teroris Sleman Pemasok Bom Poso

Aksi terorisme di Poso yang selama ini misteri, makin terkuak satu persatu. Setelah sejumlah pelakunya tertangkap, kini agen pemasok bom di Poso, terungkap. Ternyata penyuplainya adalah jaringan teroris di Sleman yang berhasil dibekuk Densus 88. “Berdasarkan keterangan para tersangka teror, di-peroleh keterangan bahan peledak yang digunakan di Poso dan sekitarnya, mereka jaringan. Namanya jaringan, jalurnya bisa bolak-balik. Mana yang membutuhkan, di-supply,” kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto di Mabes Polri, Jumat (23/03).Sementara itu, Densus 88 dan Puslabfor Mabes Polri sendiri menggeledah rumah Sutarjo, salah satu tersangka teroris yang dibekuk di Sle-man. Di rumah itu polisi juga menemukan amunisi dan bahan peledak.Penggeledahan rumah yang beralamat di RT 4 RW 7, dusun Temulus, Desa Pondok, Kecama-tan Grogol, Sukoharjo itu dila-kukan pada pukul 17.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, Kamis (22/03) lalu. Polisi juga menga-jak serta sejumlah pengurus kampung, seperti kepala desa, ketua RT dan RW setempat un-tuk menjadi saksi.Menurut Ketua RT 4 Agus Is-wanto, rumah Sutarjo dalam keadaan kosong. Selama ini Su-tarjo dan keluarganya tinggal di rumah mertuanya yang juga berada di Dusun Temulus.“Saat penggeledahan istri Sutarjo, Sri Suyani, juga dimin-ta datang. Tapi dia menolak hadir,” kata Agus. Menurut Agus, dalam penggeledahan itu polisi menemukan sejumlah barang berbahaya seperti, 550 gram TNT, satu jeriken cairan (belum diketahui jenisnya), satu kantong detonator, 2 magazin 2 senpi laras panjang, dan 2 senpi laras pendek.“Senpi dan magazin disita dari lemari. Sedangkan TNT dan cairan itu ditemukan di rak dapur,” tutur Agus. Sutarjo di-duga salah satu anggota kom-plotan teroris yang ditangkap di Sleman Yogyakarta. Kediaman Sutarjo diketahui berdasarkan nomor sepeda motor Honda Supra AD 3701 AT yang di sita dari lokasi penyergapan. Menariknya, selain menemu-kan senjata api dan bahan peledak, Densus 88 Mabes Polri juga menemukan surat wasiat Sutarjo. Surat berisi 7 butir pesan itu ditulis dengan tulisan tangan. Hal tersebut diung-kapkan Agus Iswanto, Ketua RT 4, Dusun Temulus, Desa Pon-dok, Kecamatan Grogol, Suko-harjo. Agus menjadi saksi dalam penggeledahan yang dilakukan tim Densus 88 Mabes Polri.“Dalam surat wasiat tersebut ada 7 butir pesan Sutarjo. Tapi yang saya ingat cuma dua,” ujar Agus di saat ditemui wartawan, kemarin. Dua butir wasiat Sutarjo itu adalah: 1. Andai saya mati, istriku jangan bingung. Dan anak-anak biarkan menentukan hidupnya sendiri. 2. Andai aku mati belum beristri, seluruh hartaku aku serahkan kepada adik-adikku.Mengenai sosok Sutarjo, Agus mengatakan, pria tersebut selama ini sangat tertutup. Dia jarang sekali bergaul dengan sesama warga Dusun Temulus. Berbagai aktivitasnya lebih banyak dilakukan di luar desa.“Baru setahun belakangan ini dia agak mau berbaur dengan warga. Sedangkan istrinya sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan warga,” ujar Agus.Untuk menafkahi keluarga-nya, Suparjo sehari-hari mem-buka bengkel sepeda. Sesekali dia juga mengisi berbagai fo-rum pengajian sebagai pence-ramah.(dtc/zal)

SUARA PEMBARUAN DAILY
Kapolda Sulteng: 11 DPO Poso Sangat Berbahaya

Polisi memeriksa bahan baku bom yang ditemukan dalam penggerebekan di Sukoharjo, Kamis (22/3). [Foto: AP/Ali Lutfi]
[PALU] Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Pol Badrodin Haiti menyatakan, 11 tersangka kasus Poso yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Polri dan belum tertangkap, keberadaan mereka sangat berbahaya. Mereka pandai merakit bahan-bahan peledak pemusnah massal seperti bom dan senjata api.
"Kalau ada warga masyarakat yang mengetahui keberadaan mereka mohon segera laporkan ke kepolisian terdekat agar mereka bisa segera ditangkap," ujar Badrodin seusai berbicara pada seminar "Pemberitaan Pers untuk Poso Damai" yang dilaksanakan komunitas wartawan unit Pemprov Sulteng, Kamis (22/3), di Palu.
Ke 11 DPO adalah sisa dari 29 DPO Poso yang belum tertangkap. Sebanyak 21 orang sudah berhasil ditangkap atau menyerahkan diri ke Polres Poso dan Polda Sulteng.
Disebutkan, salah satu dari 11 DPO yang belum tertangkap yang sangat berbahaya, yakni Taufik Baruga alias Upik atau juga dikenal sebagai Upik Lawanga.
Pria asal Poso ini sangat pandai merakit bom sekelas Mujadid alias Brekele, DPO Poso yang ditangkap di Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (21/3) malam. (Pembaruan, Kamis, 22/3).
Mujadid, sampai saat ini masih dirawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Salah satu kakinya luka parah akibat ditembak polisi karena melawan saat akan ditangkap. "Tersangka juga memiliki senjata dan saat hendak ditangkap mencoba melawan petugas sehingga ia terpaksa kita lumpuhkan," katanya.
Melarikan Diri
Ke 11 DPO, menurut Badrodin, sebagian sudah melarikan diri ke Pulau Jawa dan Sumatera. Yang masih bersembunyi di Poso tinggal kurang dari delapan orang, tapi lainnya sudah lari ke Jawa dan Sumatera.
Para DPO itu melarikan diri pascapenggerebekan polisi tanggal 11 dan 22 Januari di Kelurahan Gebang Rejo dan Kayamanya, Poso Kota. Mereka lari melalui jalur laut pakai motor katinting.
"Mereka melewati hutan pegunungan kemudian tembus di Tokorondo Poso Pesisir. Dari situ mereka naik katinting menuju pelabuhan di Palu dan lari ke Jawa dengan naik kapal laut," katanya.
Mengenai keberadaan beberapa oknum yang mengaku- ngaku sebagai guru agama (ustaz) di Poso tapi ternyata diduga menjadi otak pelaku aksi-aksi kekerasan, menurut Badrodin, mereka juga masih dicari. "Mereka juga jadi target pengejaran kita. Mereka itu otak di balik aksi-aksi kekerasan di Poso," tegasnya.
Polisi saat ini tengah menyelidiki keberadaan dokter Agus, seorang yang selama ini juga diduga terlibat kasus-kasus kekerasan Poso. Agus yang memberikan nasihat kepada para pelaku yang hendak meledakkan bom di Pasar Tentena Mei 2005. Dalam kejadian itu 22 orang tewas dan 50 orang lainnya terluka.
Situasi keamanan di Poso, lanjut Badrodin, sudah semakin membaik. Secara bertahap aparat yang diperbantukan men- jaga keamanan Poso mulai di- tarik. "Kita sudah tarik 1 satuan setingkat kompi (SSK) Brimob, dan mungkin akan ditarik lagi 2 SSK dan diganti dengan pasukan lain," katanya.
Sementara itu, berita penyergapan yang dilakukan Detasemen 88 Antiteror Mabes Polri, Selasa (20/3) malam, nyaris tak diketahui oleh warga di RT 04/RW 06, Kelurahan Banjardowo, Kecamatan Genuk, Semarang. Padahal, surat kabar dan televisi cukup gencar memberitakannya.
Warga yang ditemui rata-rata mengaku tak tahu jika salah satu tersangka teroris yang tertembak kakinya dalam penyergapan di Depok, Sleman itu, adalah Suparjo, tetangga mereka. "Oh, orang yang tertangkap itu Suparjo, tho? Bukan Suparjo yang lain?'' ujar Asbat, salah seorang tetangganya, saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (22/3).
Bagi Asbat, Suparjo, yang juga punya nama Sarwo Edi, dikenal sebagai orang baik-baik. Meski, ayah lima anak itu cenderung tertutup dengan warga di kampungnya. "Orangnya baik, kalau dengan tetangga juga bertegur sapa, tapi tak pernah mau ikut kumpulan dengan warga. Istrinya juga begitu, kalau diminta ikut kegiatan PKK atau posyandu menolak," ujarnya.
Suparjo, sehari-hari dikenal bekerja sebagai guru di SMP Mahad Islam di Jalan Citarum, Semarang Timur. Pria berperawakan tinggi besar itu juga dikenal sebagai guru bela diri tae kwon do. Warga tak tahu persis kapan Suparjo terlibat dalam kelompok terorisme.
Yang diingatnya, sekitar tahun 2003, Suparjo tiba-tiba saja menghilang bersama keluarganya, tanpa pamit kepada warga. Belakangan, ada warga yang tahu kalau dia pindah ke Muntilan, Magelang. [128/142/070]
Last modified: 22/3/07

SUARA PEMBARUAN DAILY
Kapolda Sulteng: 11 DPO Poso Sangat Berbahaya

Polisi memeriksa bahan baku bom yang ditemukan dalam penggerebekan di Sukoharjo, Kamis (22/3). [Foto: AP/Ali Lutfi]
[PALU] Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Pol Badrodin Haiti menyatakan, 11 tersangka kasus Poso yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Polri dan belum tertangkap, keberadaan mereka sangat berbahaya. Mereka pandai merakit bahan-bahan peledak pemusnah massal seperti bom dan senjata api.
"Kalau ada warga masyarakat yang mengetahui keberadaan mereka mohon segera laporkan ke kepolisian terdekat agar mereka bisa segera ditangkap," ujar Badrodin seusai berbicara pada seminar "Pemberitaan Pers untuk Poso Damai" yang dilaksanakan komunitas wartawan unit Pemprov Sulteng, Kamis (22/3), di Palu.
Ke 11 DPO adalah sisa dari 29 DPO Poso yang belum tertangkap. Sebanyak 21 orang sudah berhasil ditangkap atau menyerahkan diri ke Polres Poso dan Polda Sulteng.
Disebutkan, salah satu dari 11 DPO yang belum tertangkap yang sangat berbahaya, yakni Taufik Baruga alias Upik atau juga dikenal sebagai Upik Lawanga.
Pria asal Poso ini sangat pandai merakit bom sekelas Mujadid alias Brekele, DPO Poso yang ditangkap di Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (21/3) malam. (Pembaruan, Kamis, 22/3).
Mujadid, sampai saat ini masih dirawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Salah satu kakinya luka parah akibat ditembak polisi karena melawan saat akan ditangkap. "Tersangka juga memiliki senjata dan saat hendak ditangkap mencoba melawan petugas sehingga ia terpaksa kita lumpuhkan," katanya.
Melarikan Diri
Ke 11 DPO, menurut Badrodin, sebagian sudah melarikan diri ke Pulau Jawa dan Sumatera. Yang masih bersembunyi di Poso tinggal kurang dari delapan orang, tapi lainnya sudah lari ke Jawa dan Sumatera.
Para DPO itu melarikan diri pascapenggerebekan polisi tanggal 11 dan 22 Januari di Kelurahan Gebang Rejo dan Kayamanya, Poso Kota. Mereka lari melalui jalur laut pakai motor katinting.
"Mereka melewati hutan pegunungan kemudian tembus di Tokorondo Poso Pesisir. Dari situ mereka naik katinting menuju pelabuhan di Palu dan lari ke Jawa dengan naik kapal laut," katanya.
Mengenai keberadaan beberapa oknum yang mengaku- ngaku sebagai guru agama (ustaz) di Poso tapi ternyata diduga menjadi otak pelaku aksi-aksi kekerasan, menurut Badrodin, mereka juga masih dicari. "Mereka juga jadi target pengejaran kita. Mereka itu otak di balik aksi-aksi kekerasan di Poso," tegasnya.
Polisi saat ini tengah menyelidiki keberadaan dokter Agus, seorang yang selama ini juga diduga terlibat kasus-kasus kekerasan Poso. Agus yang memberikan nasihat kepada para pelaku yang hendak meledakkan bom di Pasar Tentena Mei 2005. Dalam kejadian itu 22 orang tewas dan 50 orang lainnya terluka.
Situasi keamanan di Poso, lanjut Badrodin, sudah semakin membaik. Secara bertahap aparat yang diperbantukan men- jaga keamanan Poso mulai di- tarik. "Kita sudah tarik 1 satuan setingkat kompi (SSK) Brimob, dan mungkin akan ditarik lagi 2 SSK dan diganti dengan pasukan lain," katanya.
Sementara itu, berita penyergapan yang dilakukan Detasemen 88 Antiteror Mabes Polri, Selasa (20/3) malam, nyaris tak diketahui oleh warga di RT 04/RW 06, Kelurahan Banjardowo, Kecamatan Genuk, Semarang. Padahal, surat kabar dan televisi cukup gencar memberitakannya.
Warga yang ditemui rata-rata mengaku tak tahu jika salah satu tersangka teroris yang tertembak kakinya dalam penyergapan di Depok, Sleman itu, adalah Suparjo, tetangga mereka. "Oh, orang yang tertangkap itu Suparjo, tho? Bukan Suparjo yang lain?'' ujar Asbat, salah seorang tetangganya, saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (22/3).
Bagi Asbat, Suparjo, yang juga punya nama Sarwo Edi, dikenal sebagai orang baik-baik. Meski, ayah lima anak itu cenderung tertutup dengan warga di kampungnya. "Orangnya baik, kalau dengan tetangga juga bertegur sapa, tapi tak pernah mau ikut kumpulan dengan warga. Istrinya juga begitu, kalau diminta ikut kegiatan PKK atau posyandu menolak," ujarnya.
Suparjo, sehari-hari dikenal bekerja sebagai guru di SMP Mahad Islam di Jalan Citarum, Semarang Timur. Pria berperawakan tinggi besar itu juga dikenal sebagai guru bela diri tae kwon do. Warga tak tahu persis kapan Suparjo terlibat dalam kelompok terorisme.
Yang diingatnya, sekitar tahun 2003, Suparjo tiba-tiba saja menghilang bersama keluarganya, tanpa pamit kepada warga. Belakangan, ada warga yang tahu kalau dia pindah ke Muntilan, Magelang. [128/142/070]
Last modified: 22/3/07

Friday, March 23, 2007

Komentar, 23 Maret 2007
Seorang anak sembuhkan ratusan orang di Poso
Batasina: Tuhan Yang Memberi Karunia

Pucuk Pimpinan KGPM Gbel Tedius Batasina, Rabu (21/03) menegaskan, dalam teologi Kristen mujizat dapat terjadi atas kehendak Allah. Karena Tuhan teleh memakai orang-orang yang diberi karunia. Seperti halnya yang dialami gadis cilik berusia delapan tahun bernama Selvin Bungge, asal Desa Meko di Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso (Sulteng) yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan ratusan orang sakit.Ia mengatakan, artinya segala sumber mujizat itu sesungguhnya berasal dari Allah, dan dikirimkan dalam bentuk karunia kepada orang-orang tertentu. Namun demikian, katanya yang terpenting adalah, bagaimana keimanan kita secara total terfokus kepada Tuhan. Sebab, manusia hanyalah alat. “Maka, keyakinan tentang mujizat yang terutama adalah, kepada siapa kita menyembah dan percaya. Tentunya, tidak bukan tidak lain hanyalah kepada Tuhan semata. Sebab, kita tahu bahwa Tuhan adalah segala-galanya. Dan dalam kasus ini Tuhan, telah membantu umatnya dengan memakai perantara,” jelasnya. Pastor Fred Tawaluyan menilai, penyembuhan di Poso hendaknya ‘dibaca’ sebagai sapaan Tuhan terhadap umatnya lewat peristiwa alam. Karena atas pelbagai dan banyak cara, kesempatan dan waktu Tuhan ingin menegur kita. Untuk itu, menurutnya, hal yang perlu dipertanyakan, apakah kita peka ? sebab, katanya hal seperti ini jangan terlalu cepat dinilai sebagai mujizat. Mungkin saudara kita, adik kecil mendapat karisma / anugerah khusus dari Tuhan untuk membantu orang banyak, seperti halnya menyembuhkan berbagai penyakit atau yang lainnya. Ia mengatakan, dan baru sekarang disadari dan diketahui. “Kalau peristiwa itu terjadi di luar batas kemanusiaan dan diimani sebagai peristiwa ‘ilahi’ barulah pantas disebut mujizat. Tapi, kalau memang ada iman, maka mujizat itu pasti mungkin,” ujarnya.Presiden of Asia Fellowship of Mission 21 Partner Churches / Vice President of International Synod of Mission 21 Pdt Dr Nico Gara MA berpendapat bahwa, Tuhan bisa memakai apa saja, dana siapa saja untuk melakukan / menjankan kehendaknya. Seperti contoh kasus di Poso menurutnya, Tuhan telah memakai gadis perantara gadis cilik untuk menjalankan kehendaknya, yaitu membantu menyembuhkan orang sakit. “Sebenarnya, tidak ada hal yang aneh, karena mujizat itu juga terjadi kepada setiap manusia,” ucapnya. Ia mencontohkan, seperti halnya kelebihan yang dimiliki oleh seorang dokter yang telah menyembuhkan orang sakit, menurutnya juga merupakan mujizat, dan atas karunianya ia memiliki keahlian khusus. Senada dikatakan Ketua Bamag Manado Pdt Johan Manampiring. Menurutnya, kita harus percaya segala mujizat itu selalu ada dan akan terjadi dalam kehidupan nyata manusia. “Yang pasti, mujizat merupakan suatu hal yang harus kita syukuri. Karena, kita telah diberi kelebihan tersendiri. Dan kita harus ingat dibalik kelebihan / hal yang menonjol yang kita miliki, jangan menjadikan diri kita menjadi sombong, angkuh. Namun harus diingat, semua terjadi karena Tuhan,” tegasnya.(aan)