Monday, September 24, 2007

Post-conflict Poso looks to cash in on tourism
Ruslan Sangadji, The Jakarta Post, Palu, September 24, 2007

After the area was rocked by sectarian conflict, the administration of Poso regency in Central Sulawesi has decided to turn to the tourism sector as one of the main drivers of development so as to boost its economy and restore its image.
Poso Regent Piet Inkiriwang said his administration would put the program to revitalize the tourism sector at the head of its list of priorities.
He said Poso, which was rocked by bloody sectarian conflict from 1998 to 2001, was once regarded as the province's best tourist destination.
He believed that the regency could capitalize more on its tourism potential compared to other regions in Central Sulawesi.
The administration, he said, planned to revive the Poso Lake Festival, which was previously held every year, but has been discontinued since the outbreak of the conflict.
He said the administration would also promote many other tourism attractions in the regency, such as the Black Orchid Forest in Bancea.
"Each of the tourism attractions has their own special quality and were favorite tourist destinations before the conflict," Piet said.
He said Poso was no longer a conflict area as the Muslim and Christian community had reconciled their differences while terror threats were things of the past.
"Poso people now live in peace. They are working together to rebuild Poso and resurrect its glorious past," Piet said.
One of its main tourist destinations is the 5,000-hectare Black Orchid Forest in Bancea.
The forest is home to various species of orchid, especially the black orchid, and is full of pine trees, providing picture-postcard vistas.
The forest encompasses the high altitude Lake Poso, which is situated in Tentena, capital of North Pamona district. Visitors must take a boat trip and travel another 40 km to reach the area.
The lake, which is said to be the third largest in the country, is strategically located as it lies along the Trans-Sulawesi highway, which stretches from Tana Toraja in South Sulawesi, through Poso and Gorontalo province, and up to Manado in North Sulawesi.
The lake is 32 km long from north to south, and is 16 km wide. It reaches a depth of 510 meters and is situated at an elevation of 657 meters above sea level.
Its waters are crystal clear with white sandy beaches, and it is rich in fish. It also has a number of restaurants and hotels on its banks ready to serve the area's specialty dishes to visitors.
A cave called Goa Pamona can also be found on the lakeside, is situated around 63 km from Poso. It can be accessed by both motorcycle and car.
There are human remains and skulls in the cave. According to history, the cave is where the Pamona tribe kept human remains hundreds of years ago.
"Uniquely, the water from the lake doesn't enter the cave despite the fact that it penetrates right down to the base of the lake," said Inkiriwang.
Another cave, called Goa Tangkaboba, is also an attraction.
Located in Sangele subdistrict, the cave was also used to house the remains of rulers, nobility and their kin, as evident from an ancient coffin placed at the cave's mouth.
The Poso regency administration is also promoting the 12-tier Soluopa waterfalls as a tourist attraction.
Located some 12 km west of Tentena, the waterfalls can be reached by car or bike, followed by a walk of 500 meters.
"There are many interesting places to visit. We would like to invite everyone, both local and foreign visitors, to visit Poso," Piet said.
"Don't be afraid. Poso is very safe, and we can assure you of that."

Monday, September 17, 2007

Komentar 17 Sept 2007
Jelang perayaan keagamaan
Kapolda Minta Sulut Waspadai DPO Poso

Menjelang hari raya keaga-maan, gerak-gerik teroris terus dilacak aparat kepoli-sian. Dicurigai, momen hari raya keagamaan di daerah ini, bakal disusupi enam teroris yang kini menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) Poso, Sulawesi Tengah. Hal ini di-sampaikan Kapolda Brigjen Pol Drs Jacky Uly. Kapolda pun me-warning warga Sulut dan semua pihak terkait untuk tetap mewaspa-dai ancaman teroris tersebut. Pasalnya, sampai saat ini, pi-haknya belum bisa menemu-kan secara pasti ke mana lari-nya enam DPO Poso tersebut. Yakni Nanto alias Bojel (26), Iin alias Brur (28), Taufik Bu-raga alias Upik (29), Iwan Asa-pa akuas Ake (25), Hamdara Tamil alias Papa Isran alias Papa Yus alias Man Labuan (40), serta Enal alias Ta’o (28).“Saya mengimbau seluruh masyarakat di Sulut juga pihak yang terkait untuk te-tap mewaspadai kemungkin-an menyusupnya sejumlah DPO Poso yang sedang mela-rikan diri. Ini untuk mengan-tisipasi kemungkinan ancam-an teroris yang dari para DPO tersebut,” ungkapnya. Diakui kapolda, sampai dengan saat ini belum ada laporan resmi dari hasil pengawasan dan peng-amanan di lapangan yang menyebutkan Sulut telah disusupi sejumlah DPO Poso tersebut. Namun demikian kewaspadaan terhadap ancam-an ini tetap saja dilakukan.“Memang harus diakui sam-pai sekarang belum ada la-poran yang menyebutkan bahwa sejumlah DPO Poso be-lum berada di Sulut. Infor-masi bahwa para DPO Poso melarikan diri ke daerah lain di luar Sulut. Namun bukan berarti tidak akan sama sekali. Kemungkinan untuk itu sangat terbuka sehingga kewaspadaan harus selalu dibangun. Karena jika kita lengah di situlah kita diman-faatkan,” tegasnya.Apalagi, saat ini umat Mus-lim sedang memasuki dan menjalani bulan suci Rama-dhan. Keamanan dan kenya-manan merupakan kebutuh-an mutlak yang harus tercipta selama setiap hari raya ke-agamaannya, termasuk di bulan puasa ini dan itu men-jadi tanggung jawab semua pihak. “Semua kita tak terke-cuali, dipanggil untuk menja-ga dan mengawal daerah kita ini dari ancaman DPO Poso tersebut,” ajaknya.Kapolda pun mengakui bah-wa sampai dengan saat ini pengamanan di sejumlah lo-kasi penting dan strategis yang diduga menjadi jalur ke luar masuk para DPO Poso tetap dijalankan Polda Sulut. “Diharapkan masyarakat tu-rut membantu kinerja polisi demi terciptanya keamanan dan ketenteraman di daerah ini. Jika mengetahui ada tamu atau orang asing yang mencurigakan segeralah melapor ke pihak kepolisian,” tandasnya.Diketahui, beberapa waktu lalu Polda Sulut mendapatkan informasi dari Polda Sulawesi Tengah bahwa 6 DPO Poso yang diduga merupakan ke-lompok teroris dan yang men-jadi target operasi Polda Sul-teng saat ini tengah melarikan diri ke daerah lain di Indo-nesia.(imo)

Tuesday, August 28, 2007

Komentar, 28 Agustus 2007
Polda Sulut Waspadai Larinya DPO Poso

Kapolda Sulut Brigjen Pol Drs Jacky Uly melalui Kaden 88 AT Polda Sulut, AKBP Soe-seno Noerhandoko SIK mene-gaskan, pihaknya sedang melakukan pengamanan di sejumlah lokasi sebagai lang-kah antisipatif terhadap in-formasi larinya sejumlah DPO (Daftar Pencarian Orang) Poso dari Sulawesi Tengah. Pasal-nya, bukan tidak mungkin Sulut menjadi sasaran pela-rian para DPO tersebut.Kepada wartawan, Senin (27/08) kemarin, Noerhandoko mengungkapkan, informasi yang diperoleh dari Polda Sulawesi Tengah menyebut-kan 6 DPO Poso yang diduga merupakan kelompok teroris dan yang menjadi target operasi Polda Sulteng, saat ini tengah melarikan diri ke daerah lain di Indonesia.“Karena itu, Polda Sulut per-lu melakukan langkah anti-sipatif terhadap kemungkinan masuknya para DPO ini ke Sulut,” ungkapnya. Ia menye-butkan, para DPO Poso terse-but di antaranya Nanto alias Bojel (26) warga Kelurahan Gebangrejo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso. Nanto terlibat kasus mutilasi siswi SMA Kristen Poso. Berikutnya Iin alias Brur (28), warga Kelurahan Bonesompe, Keca-matan Poso Kota. Dia terlibat kasus penembakan Jaksa Ferry Silalahi SH dan Bom Tentena selaku pengantar kontainer bom dari Palu ke Tentena via Bus Alugoro.DPO lainnya adalah Taufik Buraga alias Upik (29) warga Lawangan, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso. Upik terlibat sejumlah kasus, di antaranya mutilasi siswi SMA Kristen Poso, kasus penem-bakan di Gereja Anugerah Palu, penembakan sopir ang-kot di Desa Madale, Kabu-paten Poso, perakit bom GOR dan pembunuhan Helmi Tombiling. Selain tiga DPO tersebut masih ada tiga DPO lain masing-masing Iwan Asapa alias Ale (25), warga Lorong Cendrawasih Tanah Runtuh, Kelurahan Gebangrejo. Dia terlibat kasus pembunuhan I Wayan Sumaryasa, mutilasi siswi SMA Kristen Poso, dan penembakan jaksa Ferry Silalahi SH. Berikut Hamdra Tamil alias Papa Isran alias Papa Yus alias Man Labuan (40), warga Desa Labuan, Ke-camatan Poso Kota, Kabupa-ten Poso yang terlibat kasus mutilasi siswi SMA Kristen Poso, serta Enal alias Ta’o (28) warga asal Tanah Runtuh, Kelurahan Gebangrejo yang terlibat kasus mutilasi siswi SMA Kristen Poso dan pen-curian sepeda motor bebek BTN Palupi Palu, tahun 2005.“Jadi anak 6 DPO yang di-informasikan sudah mela-rikan diri dari Poso. Karena-nya Polda Sulut memperketat pengawasan untuk mengan-tisipasi masuknya para DPO ini. Aparat tetap dalam per-siapan dengan menggelar operasi rutin di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan, ter-masuk di daerah-daerah perbatasan Sulut dan Sul-teng,” jelasnya.Noerhandoko juga meng-ajak masyarakat yang memi-liki informasi-informasi pen-ting atau mengetahui ada orang asing di daerahnya di-harapkan segera melaporkan ke pemerintah atau kepolisian setempat. “Kami juga minta peran serta dan sumbangsih masyarakat,” pintanya.Sementara itu dalam rapat koordinasi Polda se-Sulawesi yang berlangsung di Mapolda Sulut beberapa waktu lalu, Gubernur Sulut Drs SH Sarun-dajang menegaskan, meski sampai dengan saat ini tidak terjadi ancaman kelompok teroris, namun pengamanan di daerah ini harus tetap efektif. “Saya minta agar pengamanan di daerah tercinta ini harus tetap ditingkatkan. Peng-amanan harus diperketat di sejumlah lokasi terlebih di dae-rah perbatasan. Karena bukan tidak mungkin Sulut menjadi daerah sasaran masuknya kaum teroris,” ujarnya.Bahkan Sarundajang meng-imbau kepada para aparat di tingkat kelurahan dan keca-matan untuk tidak henti-hen-tinya melakukan penertiban di lingkungannya masing-masing. “Saya instruksikan kepada para kepala lingku-ngan, lurah dan camat untuk rajin masuk ke rumah-rumah dan membiasakan bertanya siapa tamu kita malam ini. Termasuk menghidupkan pos kamling dan peraturan tamu wajib lapor. Juga kepada masyarakat dimintakan un-tuk membantu pemerintah dan aparat kepolisian dengan melapor tamu-tamu asing yang dicurigai,” tukasnya.(imo)

Monday, August 20, 2007

Jkt Post, 20 Aug 2007
Dero dance unites people

PALU, Central Sulawesi: At least 10,000 people from all walks of life united in a circle, holding hands while moving in time to the music.
They were gathered Saturday evening at the invitation of Palu's Tadulako University in Central Sulawesi to celebrate its anniversary and the country's Independence Day.
The mass Dero dance had earlier look like it was going to break the record for the country's biggest folk dance. But rain had forced the dancers to stop dancing before midnight.
The Dero dance, also known as the Pontanu dance, comes from Poso and is regularly performed during wedding ceremonies, harvest festivals and other thanksgiving rituals.
Since 2000, however, the dance has rarely been performed in Poso city and Muslim-based villages as hard-line Muslim leaders claim it against Islam principles.
But the dance is still performed in many other places in the province.
Tadulako University rector Sahabuddin Mustapa said the dance is a local tradition that should be maintained.
"We can't ban the Dero dance. Don't look at it from the negative side but rather see it as a means of uniting people, and bringing peace and togetherness," he said. -- JP

Tuesday, August 14, 2007

Komentar, 14 Aug 2007
Teroris Sadis Poso Diancam Vonis Mati

Pelaku teror sadis di Poso, Basri akan menghadapi an-caman hukuman mati atas berbagai kasus teror dan pem-bunuhan yang dilakukannya. Sidang perdana pria bernama lengkap Muhammad Basri ini telah digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (13/08) kemarin. Basri didakwa empat kasus teror dan pembunuhan. Salah satunya pemenggalan terha-dap tiga siswi SMA di Poso. Seperti diketahui, dalam aksinya, Basri telah memu-tilasi tiga siswi bernama Alvita Poliwo, Theresia Morangki dan Yarni Sambue Malewa, 29 Oktober 2005 silam. Selain itu, Basri juga didak-wa terlibat kasus penembakan Pendeta Susianti Tinulele di Gereja Effata di Palu pada 18 Juli 2004. Dakwaan dibaca-kan secara bergilir oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang di-koordinatori Totok Bambang.Basri dikenai dakwaan per-tama yakni dakwaan primer pasal 15 jo pasal 6 UU Teror-isme 15/2003 jo pasal 65 ayat 1 KUHP. Selain dakwaan pri-mer, Basri dikenai dakwaan subsider pasal 15 jo pasal 7 UU Terorisme 15/2003 jo pasal 65 ayat 1 KUHP. Basri didakwa juga terlibat penembakan Ivon Natalia dan Siti di Kelurahan Kasintuwu, Poso, pada 8 November 2005 dan kasus bom senter di Ke-camatan Poso yang menewas-kan satu warga. “Ancaman pa-sal 6 dan 7 maksimal hukum-an mati dan minimal untuk UU Terorisme 3,5 tahun,” kata jaksa penuntut umum Totok Bambang.JPU juga mendakwa Basri dengan dakwaan kedua pasal 15 jo pasal 9 UU Terorisme 15/2003 jo pasal 65 ayat 1 KUHP dengan perbuatan melawan dan menghalang-halangi petugas dengan menggunakan senjata api dan bahan peledak pada 22 Ja-nuari 2007 dan 1 Februari 2007 lalu.Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Eddy Jaenarso akan dilanjutkan pada 27 Agustus 2007 dengan agenda pembuktian oleh terdakwa. Di waktu yang berbeda, PN Ja-karta Selatan juga menggelar sidang dengan terdakwa Ardin Djanatu alias Rozak yang terlibat kasus peledakan bom Pasar Tentena 24 Mei 2005 dan penembakan Ivon, dan terdakwa Ridwan alias Duan, dan terdakwa Tugiran alias Iran karena meng-halang-halangi petugas.(dtc/*)