Sunday, January 28, 2007

Govt must eradicate underground militia movement in Poso
Jkt Post, January 27, 2007

Tension has returned to Poso, Central Sulawesi, which was torn by sectarian conflicts from 1999 through 2001. Monday's police raid on alleged militants was proof the region remains unstable and is at risk of heightened conflicts in the future. Former chief of the National Intelligence Agency (BIN) A.M. Hendropriyono gave his own account of Poso's prolonged conflict to The Jakarta Post's Ridwan Max Sijabat in Jakarta on Thursday.
Question: Why has Poso remained volatile, despite the peace agreement and continuing security operations?
Answer: The government has not yet settled the core issue thoroughly. Despite the December 2001 Malino peace agreement and police security operations, enmity still exists in the people's hearts.
The core problem in the remote regency is not the sectarian conflict between Muslims and Christians, but the presence of an underground movement using Poso as its base. This movement has orchestrated the sectarian conflicts.
Poso will remain tense and security disturbances will continue to occur from one site to another until the underground movement is thoroughly exterminated.
Q: How do you know about the clandestine movement?
A: Intelligence agents and I are familiar with the 29 alleged perpetrators on the police's most wanted list.
Prior to the crackdown on Monday, the police shot dead two men identified as Santoso and Mahmud. Both were sought by police for their alleged involvement in the shooting of a female church minister in Palu as well as the mutilation of two Christian students in the regency last year.
Santoso, whose his real name was Ryan, was a graduate of the "military academy" in Afghanistan in 1987, while Mahmud, whose real name was Uday, graduated from the same academy in the 1990s.
The police's most wanted list consists of locals and migrants who received military training to support Muslims during the conflicts. But their main mission is to establish a Taliban-style government in the country.
Malaysia's Mohammad Nasir Abbas, a former Jamaah Islamiyah (JI) regional chief who later turned police informant against Abu Bakar Bashir over the 2002 Bali bombings, knew of the militiamen and their trainers as well.
Q: Who trained the militiamen?
A: They were trained by 11 suspected foreigners linked to JI and al-Qaeda. They entered Indonesia in 2000 through Denpasar, Makassar, Palu and then Poso. Three of them were identified as Abu Dagdag, Umar Bandul and Seamreda, a German citizen. Later, Omar Faroukh arrived from South Mindanao, the Philippines.
I have classified documents showing how these foreigners recruited local youths whose parents and relatives had been killed during the region's sectarian conflicts.
When I was heading BIN we nabbed Seamreda, from whom we confiscated a video cassette showing how military training was conducted in Poso's jungles, and how Omar Faroukh distributed guns and rifles to militiamen.
After Seamreda was jailed and Omar Faroukh deported, the remaining foreigners escaped. We do not know where they are now.
Q: What have the militiamen been doing in Poso?
A: They are staging a war against the government and non-Muslims. They are not merely armed civilians in Poso, but members of JI. Poso has been declared Mantiqi III, JI's third territory. The first and second are in Malaysia and southern Philippines.
The underground movement in Poso has become stronger following the crackdown on terrorism in Malaysia and Singapore.
Indonesia has been a fertile ground for terrorists because we don't have an internal security act like Malaysia and Singapore, which both take a tough stance on terrorism. And also because of the review of the harsh anti-terrorist law.
Q: Why didn't you inform relevant authorities of this movement?
A: This has frustrated me. In 2001, I gave the information on the clandestine movement to security authorities and asked the people to heighten their alertness, but the government and the police did not believe me. As a result, security authorities have had difficulties in handling the movement.
Q: Why is it so difficult for the government to impose security and order in Poso?
A: First, the government considered the militiamen to be armed civilians or criminals during the time security personnel have been involved in gun battles with them. Second, there have been demands the government withdraw its security personnel, including the Detachment 88 anti-terror squad. Lastly, the government has decided to continue law enforcement missions, rather than conduct anti-terror operations against the underground movement.
Q: Why have law enforcement operations been less than effective?
A: With such an operation, the police will only settle problems that appear on the surface. It is not enough to just nab the criminals. The police must investigate the underground movement thoroughly.
In Poso, JI has both military and political wings. The military wing has launched the underground operation while the political wing has been fighting alongside certain hard-line groups, mass organizations and individual politicians in the executive body, the legislative body and the judiciary system.
It's not surprising to see that many organizations and politicians have asked the government to pull security personnel from Poso and to promote a persuasive approach to catching the perpetrators.
Q: What should the government do to restore security and order in Poso?
A: The government should detain the remaining perpetrators and carry out a thorough investigation of the underground movement. All elements supporting the movement should be targets of an operation conducted by intelligence agents. Unless this happens, Indonesia could be ruled by a Taliban-style regime, as happened in Afghanistan.
Following the investigation, police will be able to identify those who are behind the underground movement, its top leaders, the movement's link with those involved in the 2002 and 2003 Bali bombings and Malaysian terrorist Noordin M. Top.
The close link between Poso's clandestine movement and JI has been highlighted by the arrest of Mahmud's father-in-law, who was later jailed in East Jakarta's Cipinang penitentiary for harboring Nurdin's colleague, Dr. Azahari, who was killed in a police raid in Malang, East Java, in 2005.

Saturday, January 27, 2007

Komentar, 27 Jan 2007
Sidang MPL-PGI resmi ditutup
Poso-Papua Dituntaskan, Perda Syariat Ditinjau

Persekutan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) meminta pemerintah meninjau kembali Peraturan Daerah (Perda) yang bernuansa Syariat Islam. PGI juga secara khusus meminta agar masalah di Poso dan Papua segera diselesaikan demi ketentraman dan keda-maian bangsa. Hal ini tertuang dalam kesepakatan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI di MCC Manado. “Gereja meminta perda-perda SI untuk ditinjau kembali ka-rena tidak sesuai dengan prin-sip kebangsaan,” tegas Ketua Umum MPH PGI Pdt Dr AA Yewangoe seusai penutupan Sidang MPL PGI di obyek wisata Kalasey milik Keluarga Markadi Tambuwun, Jumat (26/01). Di samping itu, tegasnya la-gi, MPL mengambil keputusan agar gereja membahas masa-lah Poso dan meminta pada pemerintah untuk menegak-kan hukum, serta konflik yang terjadi segera disele-saikan dengan tegas sesuai hukum yang berlaku. Selain itu, tambah Yewangoe, gereja juga minta agar penyelesaian masalah Poso dilakukan dengan arif. “Kalau terjadi ke-tegangan apalagi terjadi saling baku tembak antara aparat dengan masyarakat, sulit untuk berbicara masalah na-sionalisme dan kebangsaan. Karena itulah penyelesaian ini perlu kearifan, tentunya de-ngan diikuti penegakan hu-kum secara tegas,” tandas-nya.Soal permasalahan di Pa-pua, menurut dia, gereja juga menilai perlu segera disele-saikan. Apalagi masyarakat di daerah tersebut masih ter-tinggal dan penduduknya ma-sih miskin. “Sudah sekian ta-hun Papua bergabung dengan Indonesia namun hingga se-karang penduduk dan pem-bangunannya masih banyak ketinggalan. Karena itu gereja meminta agar Papua harus di-angkat dan tidak bisa dibiar-kan tetapi dibangun dalam kerangka sebagai bagian dari satu bangsa,” tambahnya.Terkait dengan itu, lanjut dia, gereja di Indonesia ter-panggil untuk menegakkan kembali komitmen kebang-saan karena gereja merupa-kan bagian integral bangsa In-donesia sekaligus turut andil membangun kelangsungan bangsaMPL PGI juga menilai bahwa aspek-aspek menyangkut ke-giatan dan kehidupan beraga-ma diserahkan sepenuhnya kepada kelompok umat ber-agama. Selain itu negara juga berperan sebagai institusi pe-ngawas dan pengarah apabila terjadi disharmoni, dan pene-gak hukum jika terjadi pe-langgaran ketertiban sosial dan pidana.Selain mendesak kepada MPH PGI untuk mengaktifan biro hukum PGI, MPL PGI juga merekomendasikan MPH PGI melalui biro hukum PGI untuk mengumpulkan, men-data, mencermati dan menso-sialisasikan undang-undang dan perda-perda bernuansa syariat Islam kepada gereja-gereja anggota, di samping melakukan uji material dan judicial review terhadap un-dang-undang dan perda yang bertentangan dengan kon-stitusi negara RI. Untuk itu diambil keputu-san di antaranya PGI dan ge-reja angota di semua ras dan tempat harus mampu mem-bangun hubungan, komuni-kasi dan kerjasama dengan pemerintah, antar dan lintas agama serta lembaga-lemba-ga keumatan lainnya. PGI dan gereja harus mampu memba-ngun hubungan kerjasama dengan para legislator Kristen lintas partai agar mampu membawa, menyuarakan as-pirasi keadilan dan kebe-naran.(lex)

Komentar, 27 January 2007
Terkait kasus Poso dan Densus 88
Hendropriyono Minta Ba’asyir Cs Dijadikan TO

Gebrakan Densus 88 di Po-so membuat warga lega. Ta-pi Abu Bakar Ba’asyir malah meminta agar Densus 88 di-tarik dari Poso, sedangkan Ketua MPR Nurwahid Hida-yat mendesak tim anti teror tersebut ditarik, dengan alasan agar masyarakat bisa kondusif. Menanggapi hal itu, Mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara), Jenderal (Purn) AM Hendropriyono meminta, agar orang atau pejabat-pejabat yang menginginkan Densus 88 antiteror di Poso ditarik atau dibubarkan, wajib dija-dikan Target Operasi (TO) in-telijen. Handphone (HP) mere-ka harus disadap, aktivitas di-awasi, dipotret dan direkam. “Mereka jangan ditangkap, karena operasi intelijen me-mang tidak menyentuh orang. Itu urusan polisi,” kata Hen-dro. Dia sendiri menyesalkan adanya elit politik yang menya-lahartikan operasi Densus 88 dan cenderung ingin mencari popularitas untuk kepentingan pribadi di balik kasus itu. “Apa-kah Poso lebih aman ada polisi atau dipegang gerombolan,” ta-nyanya, seperti dilansir rakyat merdeka online. Diakuinya, operasi Densus 88 sudah sukses karena ber-hasil mengungkap para peru-suh yang selama ini membuat Poso menjadi medan jihad. Menurutnya, era para elit po-litik turut campur di Poso su-dah lewat karena politisi boleh ikut campur pada tahap di-plomasi. Sementara sekarang ini Poso masuk pada era pe-rang, karena diplomasi sudah menemui jalan buntu. “Pe-rang itu kelanjutan dari diplo-masi yang buntu. Karena para perusuh ngotot, maka perang adalah pilihannya,” tegasnya. Soal banyak korban yang te-was, Hendro menandaskan, tidak tepat jika hal itu disebut sebagai pelanggaran HAM. Lebih tepat kalau itu disebut risiko perang. “Sipil yang ber-senjata itu combatant, karena sipil seharusnya uncombatant alias tak bersenjata. Jadi, tak benar kalau ada warga sipil yang bersenjata.” Sipil yang bersenjata, lanjut-nya, hanya ada dua pilihan kalau bukan gerombolan bisa jadi gerilyawan yang punya target politik. Di sisi lain, Wakil Presiden M Jusuf Kalla menyesalkan pernyataan Kepala Desk Anti-teror Kementerian Polhukam Irjen Pol Ansyaad Mbai yang menyatakan perjanjian Mali-no tidak berhasil maksimal dalam menangani kasus Poso. Kalla menyebutkan, keber-hasilan perjanjian Malino dibuktikan dengan saat ini tidak ada lagi konflik antara Islam dengan Kristen di Poso.“Siapa pun yang ngomong itu tak mengerti persoalan. Berka-li-kali saya katakan perjanjian Malino menyelesaikan konflik antar komunitas. Buktinya se-karang bupatinya Kristen dan wakil bupatinya Islam mereka bekerja dengan peran yang sama,” tutur penggagas perjan-jian Malino ini.Menurut Kalla, kerusuhan Poso terjadi akibat kelompok kecil yang melakukan teror, sedangkan untuk masalah konflik di Poso sudah tidak ada lagi. “Coba tunjukkan ada konflik Poso tidak. Yang ada teror, karena itu bukan urusan Malino lagi. Itu urusan antiteror,” ujarnya.Kalla juga menilai, untuk menyelesaikan kasus baku tembak di Poso 22 Januari lalu tidak diperlukan operasi militer. Hal itu karena kasus di Poso merupakan kriminal biasa dan bukan konflik. “Ini kan soal memburu 15 orang. Itu urusan polisi,” katanya seperti dilansir detik.Soal pengakuan warga bah-wa penangkapan DPO mem-babi buta, Kalla menilai, tidak perlu dilakukan penyidikan lebih lanjut. Hal ini tidak per-lu karena sudah ada tim in-dependen yang memantau. “Biasalah tidak mungkin orang 100 persen puas,” kata Kalla.(dtc/rmc)

Demo Kasus Poso Tuntut Pemerintah Berlaku Adil
Jum'at, 26 Januari 2007 16:23 WIB

TEMPO Interaktif, Solo:Unjuk rasa laskar-laskar Islam di Solo dalam menyikapi kasus Poso sempat diwarnai ketegangan antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan, Jumat pagi hingga siang tadi. Aparat kepolisian melarang pengunjuk rasa menggelar aksi dengan memblokade jalan.Massa yang mengatasnamakan Laskar Ummat Islam Surakarta ini berkumpul di Masjid Kota Barat. Mereka di antaranya dari Laskar Majelis Mujahdin Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, Hisbullah, dan Al Ihklas.Pengunjuk rasa bermaksud menggelar aksi berjalan kaki menuju Markas Kepolisian Wilayah Surakarta di Jalan Slamet Riyadi. Upaya itu gagal karena diblokade ratusan polisi yang mengerahkan mobil pamadam dan anjing pelacak. Mereka yang berjumlah sekitar 100 orang mendesak Komisi Nasional Hakl Asasi Manusia untuk investigasi terhadap operasi di Poso yang menewaskan belasan orang. Selain itu, massa juga mendesak pemerintah berlaku adil dalam pengusutan kasus Poso. "Kami minta agar Densus 88 segera ditarik," kata Edi Lukito, koordinator aksi. Anas Syahirul

Ansyad Mbai: Tuntut Penarikan Densus 88, Pendukung Terorisme
Jum'at, 26 Januari 2007 17:58 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme, Irjen Ansyad Mbai, menyebut kelompok-kelompok yang menuntut pembubaran Detasemen Khusus Antiteror 88 sebagai pendukung terorisme. "Suara yang mendukung penarikan Densus 88 adalah suara pendukung terorisme," kata dia dalam diskusi soal konflik Poso di ruang wartawan Dedung Dewan Perwakilan Daerah, Jumat siang.Menurut Ansyad, saat ini masyarakat Poso sangat membutuhkan kehadiran kepolisian untuk menumbuhkan rasa nyaman. Ia mensinyalir susahnya penyelesaian kasus Poso salah satu penyebabnya adalah tidak ada warga yang mau memberikan kesaksian. "Bagaimana mau memberikan kesaksian kalau besok mati," ujarnya. Gunanto E.S,