Thursday, February 16, 2006

Di Duga Antek Noordin Di Poso: FSPUI Protes Penangkapan Sahl
Radar Sulteng, Selasa, 14 Februari 2006

POSO- Penangkapan atas diri ustdaz Sahl Alamri oleh Densus 88 mengundang reaksi keras dari masyarakat Poso. Kemarin, sekitar 1.000-an masyarakat muslim Poso yang tergabung dalam Forum Silaturahim Perjuangan Umat Islam (FSPUI) Kabupaten Poso dan pengurus HMI Cabang Poso berunjuk rasa di Polres Poso dan kantor DPRD Poso.

Selain memprotes penangkapan ustdaz Sahl, yang mereka anggap sebuah penculikan karena ditangkap saat mengantar minyak tanah, juga mengecam tabloit Jyllan Denmark yang memuat karikatur Nabi Muhammad SAW. Sebagai tanda kemarahan, sebuah boneka yang dibuat dari kertas menggambarkan orang Denmark dipasang bendera Denmark dibakar di tengah lapangan Sintuwu Maroso Poso.

Ikut dalam aksi itu Ketua FSPUI H Adnan Arsal SAg, Sekretaris FSPUI Syarifulah Djafar, ustdaz Muharam, Sugianto dan Baharudin Sapii. Unjuk rasa itu sendiri sedikit ternodai oleh ulah beberapa orang pengujuk rasa yang menghakimi Turman, pegawai Kantor Kesbang Poso hingga dirawat di RSU Poso.

Main hakim sendiri itu sampai terjadi, karena Turman dikira anggota Banpol (bantuan polisi-red). Rupanya massa yang lain tidak tau menahu kalau Turman sedang menjalankan tugasnya sebagai anggota Kesbang. Untungnya massa yang lainnya mengenal Turman, sehingga main hakim sendiri bisa segera diatasi. Meski demikian, Turman tetap dilarikan ke RSU karena mengeluarkan darah akibat terkenan pukulan.

Ustdaz Adnan pada saat menyampaikan orasinya meminta agar pemerintah bertindak adil. Dia mempertanyakan penangkapan ustdaz Sahl secara tiba-tiba di tengah jalan, dengan alasan menyembunyikan informasi teroris. Kemudian keesokan harinya ada surat yang diterimanya yang menyatakan ustdaz Sahl sudah tersangka kasus teroris.

Adnan tidak yakin kalau Sahl terlibat terorisme. Sebab ustdaz Sahl itu hanya datang mengajar, ceramah dimajelis ta'lim dan jual minyak tanah.

Karena itu dia menilai ada usaha sistimatis mengindikasikan bahwa Pondok Pesantren Amanah ada jamaah islamiyah, aliran keras. Menurut Adnan semua itu adalah fitnah besar.

Usai berorasi di lapangan Sintuwu Maroso, massa bergerak menuju Polres Poso. Di sana rupanya sudah menunggu Kapolres Poso AKBP Drs Rudy Sufahriadi, Wakil Satgas Kolonel Moch Slamet dan Wakapolres Kompol Andreas SIP di depan pintu masuk halaman Polres Poso.

Jalan di depan Polres dipenuhi massa. Kendaraan terpaksa dialihkan ke jalan lain. Seluruh pemilik toko di sekitar Polres Poso menutup tokonya. Sementara areal di depan Polres Poso telah dikelilingi penembak jitu. Para penembak jitu menggunakan cadar dengan senjata lengkap dan siaga di teras lantai dua semua toko depan Polres Poso dan mengamati gerak gerik para pendemo.

Setelah di Polres, pengujuk rasa bergerak menuju Kantor DPRD Poso. Perwakilan pendemo seperti ustdaz Adnan, Syarifullah, Baharudin Sapii, ustdaz Muharam, Sigianto diterima Ketua DPRD Poso Drs S Pelima di ruang kerjanya. Pelima didampingi Wakil Ketua Herry Sarumpaet serta beberapa orang anggota dewan.

Dalam pertemuan itu pengunjuk rasa menyampaikan beberapa tuntutan. Yakni, meminta dewan membentuk pansus yang merekomendasikan pembentukan TPGF Poso. Mereka juga meminta Ipong dan Yusuf yang kini ditahan di Mabes Polri untuk diproses di Poso atau Palu.

Dalam pertemuan itu disinggung pula soal dugaan ijazah palsu Bupati Piet Inkiriwang. Atas tuntutan tersebut, dewan berjanji akan menyikapi dan menyampaikannya ke instansi terkait.(wan)

No comments: