Wednesday, July 05, 2006

SUARA PEMBARUAN DAILY
TAJUK RENCANA I
Rindu Damai di Poso

Sejarah diukir di Poso, Sulawesi Tengah, kemarin (3/7). Ribuan penduduk dari seluruh pelosok kabupaten itu berkumpul di Poso. Mereka melakukan apel akbar untuk mendeklarasikan kesepakatan perdamaian Poso yang abadi.
Saat itu dibacakan lima butir Ikrar Pemuda Poso yang intinya seluruh pemuda akan mengawal secara penuh proses perdamaian masyarakat yang sudah terbangun di Poso. Pemuda juga menolak segala bentuk provokasi dan isu-isu menyesatkan yang ingin memecah-belah kembali masyarakat.
Sebagai simbol perdamaian abadi di Poso Gubernur Sulteng HB Paliudju meresmikan monumen "Kedamaian Pemuda Poso" yang dibangun di pusat Kota Poso oleh para pemuda yang tergabung dalam DPD KNPI Poso.
Pada kesempatan itu dimusnahkan ratusan senjata api dan bahan peledak, yang disita aparat selama operasi pemulihan keamanan Poso Januari - Juni 2006. Apel itu juga sekaligus menandai berakhirnya tugas Komando Operasi Pemulihan Keamanan Poso (Koopskam).
Kita berharap perdamaian di Poso akan tercipta. Kita percaya para pemuda yang telah menyatakan ikrar itu akan mengawal perdamaian di sana, sehingga Poso menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman.
Suka tidak suka, citra Poso sudah terbentuk sebagai kota yang tidak aman. Teror sering terjadi di sana. Bahkan ketika Polri sedang merayakan Hari Bhayangkara ke-60, bom meledak di kompleks gereja. Diduga yang meledak itu bom hampa karena di tempat kejadian tidak ditemukan serpihan bom. Sebelumnya, ditemukan amunisi. Kejadian ini seakan meledek, Poso tidak bisa aman.
Dalam enam bulan terakhir, kondisi Poso cukup baik. Teror sudah jauh berkurang setelah digelar Koopskam. Kita berharap situasi seperti ini terus bertahan. Menjaga Poso yang damai hendaknya menjadi tekad seluruh rakyat Poso. Perdamaian tidak bisa diminta dari petugas keamanan saja.
Ikrar para pemuda tadi adalah salah satu langkah maju untuk menciptakan Poso yang damai. Jangan kan penduduk Poso, penduduk di Tanah Air pun tidak bahagia menyaksikan Poso dan Sulawesi Tengah pada umumnya masih dihantui oleh teror.
Kita mencatat pada 2005, beberapa kali Poso diteror. Pada Oktober 2005 terjadi pembunuhan terhadap tiga siswi Sekolah Menengah Kejuruan Kristen. Masih pada tahun yang sama bulan Mei, dua bom meledak di tengah pasar Tentena ketika orang sedang ramai berbelanja pagi hari. Bom tersebut menewaskan sedikitnya 20 orang.
Semenjak 2001, Poso, juga Palu dan provinsi itu secara keseluruhan hampir tak pernah lagi mengenal damai secara utuh. Pada 24 Juli 2001 bom mengguncang markas Polda Sulawesi Tengah saat warga Kabupaten Poso berunjuk rasa.
Malah yang lebih membuat kita tercengang, pada awal tahun ini yang menjadi sasaran justru polisi sendiri. Kita dikejutkan ketika Kapolres Poso AKBP Rudy Supriadi ditembak orang tak dikenal di Poso saat dia akan akan salat subuh di Masjid Kompleks Mapolres Poso, sekitar 2 km dari rumah dinasnya. Saat itu Kapolres mengendarai sepeda motor dan sendirian tanpa pengawal. Ketika sedang melintas, tiba-tiba dia ditembak.
Lebih menarik lagi, seorang laki-laki yang mejadi pelaku penembak ternyata menyapa Kapolres terlebih dahulu, baru menarik pelatuk senjata apinya. Bila selama ini yang menjadi sasaran adalah rakyat biasa kini yang diancam adalah seorang Kapolers.
Jelas, bagi kita ini sebuah sinyal. Penembakan itu tampaknya bukan terjadi secara kebetulan. Ada rencana yang matang di baliknya.
Apa yang digambarkan di atas menunjukkan betapa Poso selama ini senantiasa didera rasa tidak aman yang berkepanjangan. Deklarasi damai pemuda Poso sungguh suatu langkah maju.
Kita berharap langkah serupa juga dilakukan wilayah lain. Palu yang menjadi ibu kota provinsi Sulawesi Tengah juga masih belum aman dari berbagai teror. Kita berharap deklarasi damai tidak hanya untuk Poso, tetapi juga untuk Palu dan provinsi itu pada umumnya.
Last modified: 3/7/06

No comments: