Tuesday, January 30, 2007

SUARA PEMBARUAN DAILY
Muis Mengaku Pelaku Peledakan Pasar Babi, Palu

[PALU] Abdul Muis (21), tersangka utama pelaku penembakan Pdt Irianto Kongkoli, Selasa (31/1) kembali dihadirkan dalam rekonstruksi kasus peledakan di Pasar Daging Babi, Ja- lan Sulawesi, Maesa, Palu, Sabtu, 31 Desember 2005.
Abdul Muis warga asli Palu yang ditangkap aparat dalam penyergapan buronan Poso, Kamis (22/1) lalu di Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota, selain mengaku sebagai pelaku penembakan Pdt Kongkoli, juga mengaku sebagai pelaku peledakan bom di pasar daging babi tersebut yang menewaskan delapan orang dan melukai lebih dari 50 orang.
Saat berita ini diturunkan, proses rekonstruksi sedang berlangsung dengan disaksikan Wakil Kepala Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam. Pada Senin (29/1) malam, Anton mengundang wartawan untuk mendengarkan pengakuan Muis (ditayangkan lewat rekaman CD) tentang keterlibatannya da- lam kasus penembakan Pdt Kongkoli maupun peledakan di pasar daging babi.
Dalam pengakuan itu, Muis menyatakan dirinyalah yang menaruh paket bom di bawah sebuah meja penjual di pasar daging babi pada Senin pagi, 31 Desember 2005 hingga meledak. Rencana jahat itu dilakukan Muis bersama Icang (buronan Poso) yang tewas dalam penggerebekan di Gebang Rejo, 22 Januari lalu), tadinya paket bom itu hendak diledakkan Sabtu pagi, 24 Desember 2005 di lokasi yang sama. Tapi sesampai di pasar daging babi sepi dari pembeli, bom yang ditaruh Muis di bawah meja penjual daging babi yang ditutupi sayur-sayuran yang dibelinya dari pasar (sehingga tidak diketahui kalau itu bom) tidak meledak.
Dan atas koordinasi dengan Icang, Muis pergi kembali mengambil paket bom tersebut, dan ironisnya tidak ada seorang pun yang mengetahui tindakan Muis tersebut. "Karena gagal, saya dengan Icang kembali merencanakan meledakkan bom tersebut pada 31 Desember. Kenapa kami memilih pasar daging babi, karena kami tahu pasti lokasi itu luput dari pengamanan aparat. Dan benar bom meledak sesuai rencana, dan kami berhasil," katanya.
Muis mengaku menembak Pdt Kongkoli dan meledakkan bom di pasar daging babi bukan karena motif dendam, tapi lebih sebagai keyakinannya dengan ideologi tertentu. "Pdt Kongkoli adalah pimpinan yang berpengaruh di Poso. Dia juga sering memimpin demo- demo menolak eksekusi Fabianus cs," tandasnya.
Muis mengaku dalam serangkaian kasus kekerasan yang dia lakukan, dia dibiayai oleh salah seorang di Semarang (orang tersebut kini ditahan di LP Cipinang karena terlibat penyimpanan bahan peledak).
Muis yang sebenarnya bukan korban konflik Poso juga mengakui dirinya pernah dilatih/mendapat doktrin dari jaringan tertentu yang menghalalkan membunuh sebagai perbuatan amal.
Introspeksi
Di bagian akhir pengakuannya, Muis meminta rekan-rekannya di Poso, termasuk yang masuk buron agar kembali mengintrospeksi agar perbuatan atau keyakinan yang tengah diikuti sekarang ini sudah benar atau salah. "Kalau perbuatan kita itu salah, tidak ada salahnya jika kita memperbaikinya kembali," katanya.
Sementara itu Anton Bachrul Alam menyatakan, dari pengakuan Muis terungkap bahwa perbuatan membunuh yang dilakukan bukan karena faktor dendam, tapi lebih pada keyakinan pada ideologi tertentu. "Inilah yang menjadi tugas besar polisi di Poso untuk meluruskan semua persoalan ini, karena bagaimana pun keyakinan tersebut bertentangan dengan asas hukum yang berlaku di negara kita. Tugas polisi untuk menegakkan hukum, menindak mereka yang melanggar hukum, siapa pun dia," tegasnya.
Anton mengakui bahwa ideologi yang bertentangan dengan asas dan hukum negara di Poso saat ini sudah demikian besar pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat, dan untuk memulihkankan perlu kerja keras dan kerja sama semua pihak. [128]
Last modified: 30/1/07

No comments: